Ekonomika Pancasila: The Theory of Everything

Rabu 22 Jul 2026, 10:23 WIB
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono. (Sumber: Poskota)
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono. (Sumber: Poskota)

Oleh: Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre)

POSKOTA.CO.ID - Bila waktu revolusi telah datang, tentu mukjizat tak 'kan pergi. Terima kasih revolusi telah memberikan bakti dan persahabatan plus penyelamatan. Semoga alam raya memudahkan jalan bagi Indonesia meraih keadilan dan kemakmuran. Aamiin.

Izinkan kubertanya, adakah yang bisa menjelaskan seluruh peristiwa di Indonesia? Ada. Apakah itu? Mari kita cermati satu demi satu. Semoga ketemu. Aamiin.

Selama bertahun-tahun membaca, melakukan penelitian dan mempublikasikannya, saya telah melakukan eksperimen dengan akurasi dan proyeksi yang luar biasa hampir sampai pada setiap kesimpulan untuk mencari tahu "apa penyebab utama negara kita jalan di tempat".

Tentu, ikhtiar ini sambil menyadari tidak ada negara yang persis sama di planet ini, nasib dan sejarahnya. Arsitekturnya beraneka rupa. Ada negara yang berpenghuni warga bodoh sehingga tak mampu mengatasi problemnya.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Memunggungi Ekonomi Laut Kita

Ada negara yang berpenghuni warga cerdas tetapi ribut dan konflik internal secara terus menerus. Ada juga yang penghuninya heterogen tetapi mendapati bencana alam dan penjajahan sehingga multifokus dan gagal menyelesaikan problemanya.

Karenanya, teori segala hal ikhwal untuk tiap negara juga berbeda-beda. Demikian pula Indonesia. Jika sama, kita tinggal kopi paste saja.

Di Indonesia, pencarian teori hal ikhwal ini saya mulai dengan menggeluti diskursus agama. Tesisnya, "karena ini bangsa muslim maka menyelesaikan problema Islam adalah menyelesaikan problema Indonesia".

Tentu, ada banyak definisi tentangnya. Hipotesaku berikutnya adalah, agama merupakan seperangkat metoda memahami masa lalu, masa kini dan masa depan secara seimbang. Bukan tujuan dan akhir dari segala. Sebab itu banyak orang beragama tersesat dan banyak orang tak beragama justru selamat.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: 4 Tahap Peradaban Pangan


Berita Terkait


News Update