Douglas Latchford Asal Mana? Ini Sosok dan dan Kontroversi di Balik Pengembalian Arca Buddha Indonesia

Selasa 14 Jul 2026, 07:58 WIB
Kolektor seni Douglas Latchford menjadi sorotan publik setelah dua arca Buddha perunggu berusia lebih dari 1.200 tahun yang pernah dikaitkan dengan jaringan perdagangannya resmi dipulangkan ke Indonesia. (Sumber: X/@AndyBrouwer)
Kolektor seni Douglas Latchford menjadi sorotan publik setelah dua arca Buddha perunggu berusia lebih dari 1.200 tahun yang pernah dikaitkan dengan jaringan perdagangannya resmi dipulangkan ke Indonesia. (Sumber: X/@AndyBrouwer)

POSKOTA.CO.ID - Kolektor seni Douglas Latchford, menarik perhatian publik usai dua arca Buddha perunggu berusia lebih dari 1.200 tahun akhirnya kembali ke Indonesia.

Kedua arca Buddha tersebut dikembalikan oleh Jaksa Amerika Serikat, Damian Williams, kepada Pemerintah Indonesia melalui program repatriasi yang berlangsung di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) New York.

Benda purbakala yang dipulangkan ke Indonesia itu sendiri berupa dua arca perunggu Buddha Avalokiteshvara dalam posisi berdiri yang berasal dari abad ke-8.

Masing-masing arca memiliki tinggi sekitar 16 inci dan 20 inci. Berdasarkan hasil penyelidikan otoritas Amerika Serikat, kedua arca itu diambil secara ilegal dari situs arkeologi di Indonesia oleh kelompok penjarah beberapa dekade silam.

Setelah dicuri, benda-benda bersejarah tersebut berpindah tangan melalui jaringan perdagangan barang antik internasional hingga akhirnya dibeli oleh Douglas Latchford yang saat itu berdomisili di Bangkok, Thailand.

Pengembalian kedua arca ini menjadi bagian dari kerja sama internasional dalam memerangi perdagangan ilegal benda cagar budaya sekaligus mengembalikan warisan sejarah kepada negara asalnya.

Kemudian, penyelidikan mengungkap bahwa antara tahun 2003 hingga 2007, Douglas Latchford menjual kedua arca tersebut bersama berbagai artefak Asia Tenggara lainnya kepada seorang kolektor.

Selama bertahun-tahun, Latchford diduga menyembunyikan asal-usul sebenarnya dari benda-benda tersebut.

Ia disebut memberikan informasi yang menyesatkan mengenai riwayat kepemilikan (provenance) agar artefak curian itu tampak memiliki asal yang sah.

Praktik tersebut memungkinkan benda-benda hasil penjarahan masuk ke pasar seni internasional dan diperjualbelikan dengan nilai yang sangat tinggi.

Dalam dokumen perkara United States v. A Late 12th Century Bayon-Style Sandstone Sculpture Depicting Eight-Armed Avalokiteshvara, et al., kedua arca tersebut diidentifikasi sebagai "Sculpture-12" dan "Sculpture-27".

Melalui proses hukum tersebut, pemerintah AS berhasil menyita berbagai artefak yang diduga merupakan hasil penjarahan sebelum akhirnya dikembalikan kepada negara asalnya.

Lantas, sebenarnya Douglas Latchford berasal dari mana? Bagaimana perjalanan hidupnya hingga dikenal sebagai salah satu kolektor seni paling kontroversial di dunia?

Berikut profil lengkap Douglas Latchford beserta perjalanan karier, kontroversi yang melingkupinya, dan fakta-fakta di balik kasus perdagangan artefaknya.

Baca Juga: Anak dan Istri Rudy Mas'ud Siapa serta Berapa Kekayaannya? Jadi Sorotan usai Anggaran Laundry Rp450 Juta Viral

Douglas Latchford Asal Mana?

Seperti dilansir dari Wikipedia, pada Selasa, 14 Juli 2026, Douglas Arthur Joseph Latchford lahir pada 15 Oktober 1931 di Mumbai, India, yang saat itu masih menjadi bagian dari British Raj.

Dirinya kemudian menempuh pendidikan di Brighton College, Inggris, sebelum kembali ke India menjelang kemerdekaan negara tersebut.

Pada awal kariernya, Latchford bekerja di industri farmasi di Mumbai. Tahun 1956 ia pindah ke Bangkok, Thailand, dan mendirikan perusahaan distribusi obat pada 1963.

Keberhasilannya dalam dunia bisnis membuatnya juga berinvestasi di sektor properti di Thailand.

Ia juga memperoleh kewarganegaraan Thailand pada 1968 dan menggunakan nama Thailand Pakpong Kriangsak.

Selain dikenal sebagai pebisnis, Latchford aktif di dunia binaraga dan menjabat sebagai Presiden Kehormatan Thai Bodybuilding Association sejak 2016 hingga meninggal dunia.

Nama Douglas Latchford mulai menjadi sorotan dunia setelah otoritas Amerika Serikat mengungkap dugaan keterlibatannya dalam jaringan perdagangan benda purbakala ilegal.

Pada 2019, ia didakwa oleh Jaksa Distrik Selatan New York atas dugaan menjalankan skema bertahun-tahun untuk memperdagangkan artefak hasil penjarahan dari Kamboja dan berbagai negara Asia Tenggara.

Ia juga dituduh memalsukan dokumen asal-usul artefak agar dapat dijual kepada museum ternama maupun kolektor kaya di berbagai negara.

Namun proses pidana tersebut tidak pernah berlanjut hingga persidangan karena Latchford meninggal dunia pada 2 Agustus 2020 dalam usia 88 tahun.

Meski telah meninggal, dampak kasus Douglas Latchford masih terus berlanjut.

Sebelum wafat, putrinya Nawapan Kriangsak telah memulai pembicaraan untuk mengembalikan koleksi keluarganya yang diperkirakan bernilai lebih dari US$50 juta kepada Kamboja.

Dalam beberapa tahun berikutnya, sejumlah museum internasional turut mengembalikan artefak yang sebelumnya diperoleh dari Latchford.

Baca Juga: Viral Video 2 Anak Dibawah Umur Berbuat Asusila di Gang Sempit, Warga Rawa Buaya Resah

Pada 2021, Denver Art Museum memulangkan empat artefak Kamboja.

Kemudian pada 2023, National Gallery of Australia mengembalikan tiga patung perunggu kepada Kamboja setelah diketahui memiliki keterkaitan dengan jaringan perdagangan Latchford.

Pada tahun yang sama, keluarga Latchford juga menyetujui pengembalian 125 artefak lainnya serta melepaskan aset senilai sekitar US$12 juta.

Terbaru, pada Januari 2026, Asian Art Museum San Francisco turut mengembalikan empat arca besar Prakhon Chai kepada Thailand.

Patung-patung tersebut sebelumnya diketahui diselundupkan keluar dari negara asalnya oleh Douglas Latchford sebelum akhirnya dipulangkan ke Museum Nasional Bangkok.


Berita Terkait


News Update