POSKOTA.CO.ID - Kabar meninggalnya dr Adrian Rantung, peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) tengah menjadi perhatian luas.
Dokter Adrian Rantung meninggal dunia usai diduga menjadi korban bullying selama menjalani PPDS.
Perbincangan mengenai kasus ini sendiri bermula setelah unggahan sejumlah akun media sosial menyampaikan kabar meninggalnya Adrian Rantung.
Meski demikian, Polresta Manado meluruskan sejumlah informasi yang beredar terkait kematian dr Adrian Rantung.
Selain memastikan kronologi penanganan jenazah korban, polisi juga menegaskan dugaan perundungan (bullying) yang ramai diperbincangkan di media sosial hingga kini masih dalam tahap penyelidikan dan belum dapat disimpulkan sebagai fakta.
Kasat Reskrim Polresta Manado, Kompol Elwin Kristanto menyebut, penyelidikan dilakukan secara profesional dengan mengedepankan asas praduga tak bersalah.
"Kami telah melakukan serangkaian langkah penyelidikan, mulai dari menelusuri informasi yang beredar di media sosial, berkoordinasi dengan pihak RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado, mengumpulkan dokumen, hingga meminta keterangan dari sejumlah pihak," ujar Elwin dalam keterangan resminya.
Berdasarkan keterangan dari pihak forensik, terhadap jenazah hanya dilakukan pemeriksaan fisik luar sesuai permintaan keluarga.
Sementara itu, autopsi tidak dilakukan karena pihak keluarga tidak mengajukan permintaan pemeriksaan tersebut.
Akibatnya, penyebab pasti kematian belum dapat dipastikan secara menyeluruh melalui pemeriksaan medis.
Di balik ramainya pemberitaan tersebut, muncul pula rasa ingin tahu masyarakat mengenai sosok Adrian Rantung.
