LEBAK, POSKOTA.CO.ID - Di tengah derasnya arus modernisasi yang menggerus banyak tradisi lokal, Masyarakat Adat Kasepuhan Cisitu di Desa Situmulya, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten, membuktikan warisan leluhur bukan sekadar ritual budaya.
Tradisi tersebut telah menjadi sistem sosial yang menjaga ketahanan pangan, kelestarian lingkungan, sekaligus identitas masyarakat adat.
Tradisi tahunan tersebut merupakan puncak ungkapan syukur atas hasil panen selama setahun sekaligus menegaskan eksistensi adat yang telah bertahan lebih dari tiga abad sejak pertama kali dilaksanakan pada 1685.
Ribuan masyarakat adat dari berbagai kampung, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, memadati kawasan Kasepuhan Cisitu.
Baca Juga: Rela Datang Subuh, Siswa Rebutan Bangku saat Hari Pertama Sekolah di Lebak
Sebanyak 50 boboko atau bakul besar berisi padi hasil panen diarak menuju leuit, lumbung padi adat yang menjadi simbol kemandirian pangan masyarakat.
Puluhan ikat padi juga dipikul menggunakan rengkong, alat angkut tradisional berbahan bambu yang menghasilkan bunyi khas saat digerakkan.
Kirab budaya berlangsung khidmat, diiringi doa-doa, kesenian tradisional, serta prosesi penyimpanan padi ke dalam leuit.
Bagi masyarakat Kasepuhan, padi bukan sekadar hasil pertanian, melainkan sumber kehidupan yang harus dijaga sebagai cadangan pangan sekaligus benih untuk musim tanam berikutnya.
Baca Juga: Kuota Siswa Sekolah Rakyat di Lebak Habis
Ketua Adat Kasepuhan Cisitu, Abah Yoyo Yohenda, mengungkapkan, Seren Taun ini berlangsung selama delapan hari, mulai 6-13 Juli 2026. Hari ketujuh diisi dengan kirab budaya dan ritual sakral Sawer Buhun yang menjadi bagian penting dari rangkaian adat.
