Cara Beli Bitcoin untuk Pemula 2026: Panduan Lengkap, Aman, dan Legal di Indonesia

Minggu 12 Jul 2026, 16:59 WIB
Ilustrasi. Cara membeli Bitcoin. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)
Ilustrasi. Cara membeli Bitcoin. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)

POSKOTA.CO.ID - Bitcoin (BTC) masih menjadi aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia. Meskipun pergerakan harganya masih berfluktuasi sepanjang 2026, minat masyarakat Indonesia terhadap investasi aset digital terus menunjukkan tren positif.

Berdasarkan data industri hingga April 2026, jumlah investor kripto di Indonesia telah mencapai sekitar 21,7 juta pengguna dengan nilai transaksi pasar spot menyentuh Rp22,98 triliun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa Bitcoin masih menjadi salah satu instrumen investasi yang banyak diminati.

Bagi masyarakat yang ingin membeli Bitcoin untuk pertama kali, memahami regulasi, memilih platform resmi, hingga mengetahui risiko investasi menjadi langkah penting sebelum mulai bertransaksi.

Baca Juga: BNI Permudah Reaktivasi Mobile Token BNIdirect Lewat Kanal Resmi

Regulasi Bitcoin di Indonesia Kini Berada di Bawah Pengawasan OJK

Sejak 10 Januari 2025, pengawasan perdagangan aset kripto secara resmi dialihkan dari Bappebti kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Perubahan tersebut diatur melalui Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) serta POJK Nomor 27 Tahun 2024.

Melalui kebijakan baru tersebut, aset kripto kini dikategorikan sebagai Aset Keuangan Digital, bukan lagi sebagai komoditas.

Beberapa perubahan penting yang perlu diketahui antara lain:

Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Hari Ini 2 Juli 2026: Termurah Rp415.000 per Gram

  • Exchange wajib memiliki izin sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) dari OJK.
  • Per Mei 2026 terdapat 26 platform perdagangan kripto yang telah mengantongi izin resmi.
  • OJK juga menerbitkan POJK Nomor 6 Tahun 2026 yang mengatur aktivitas influencer kripto agar tidak sembarangan memberikan rekomendasi investasi.
  • Crypto Futures Exchange (CFX) menjadi bursa kripto resmi di Indonesia.

Meski legal diperdagangkan sebagai aset investasi, Bitcoin tetap bukan alat pembayaran yang sah di Indonesia sehingga tidak dapat digunakan untuk transaksi maupun pembayaran kepada pemerintah.

Daftar Exchange Bitcoin Legal Berizin OJK

Sebelum membeli Bitcoin, pastikan menggunakan platform perdagangan yang telah memperoleh izin resmi dari OJK.

  1. Indodax

Indodax merupakan exchange kripto terbesar di Indonesia dengan lebih dari enam juta pengguna.

Keunggulannya meliputi:

  • Mendukung lebih dari 200 aset kripto.
  • Minimum pembelian mulai Rp10.000.
  • Biaya maker 0 persen dan taker 0,3 persen.
  • Pasar langsung menggunakan Rupiah.
  1. Tokocrypto

Didukung oleh Binance, Tokocrypto menawarkan likuiditas tinggi dengan lebih dari 300 aset kripto.

Fitur unggulannya antara lain:

  • Minimum transaksi sekitar Rp10.000.
  • Biaya trading maker dan taker sebesar 0,1 persen.
  • Biaya penarikan relatif rendah.
  1. Pintu

Pintu menjadi salah satu aplikasi favorit bagi investor pemula berkat tampilan yang sederhana.

Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Hari Ini 30 Juni 2026: Termurah Dijual Rp420.000 per Gram

Beberapa kelebihannya yaitu:

  • Minimum pembelian sekitar Rp11.000.
  • Memiliki layanan Pintu Pro dengan biaya transaksi lebih rendah.
  • Menyediakan fitur investasi otomatis (DCA).
  1. Pluang

Selain kripto, Pluang juga menyediakan akses investasi emas dan saham Amerika Serikat dalam satu aplikasi.

  1. Reku

Platform yang sebelumnya dikenal sebagai Rekeningku ini menawarkan lebih dari 100 aset kripto lengkap dengan fitur staking dan biaya transaksi yang kompetitif.

Cara Membeli Bitcoin untuk Pertama Kali

Membeli Bitcoin kini dapat dilakukan hanya dalam beberapa menit melalui aplikasi exchange resmi.

Berikut langkah-langkahnya:

  1. Unduh aplikasi exchange yang telah berizin OJK.
  2. Lakukan registrasi akun.
  3. Verifikasi identitas (KYC) menggunakan KTP dan foto selfie.
  4. Deposit dana dalam Rupiah melalui transfer bank atau metode pembayaran yang tersedia.
  5. Cari aset Bitcoin dengan kode BTC.
  6. Masukkan nominal pembelian, misalnya Rp100.000.
  7. Konfirmasi transaksi hingga Bitcoin masuk ke saldo akun.

Bagi investor dengan nilai aset yang cukup besar, disarankan memindahkan Bitcoin ke dompet pribadi (wallet) untuk meningkatkan keamanan.

Perbandingan Biaya Trading Bitcoin

Setiap platform menerapkan struktur biaya yang berbeda.

Sebagai ilustrasi pembelian Bitcoin senilai Rp1 juta:

  • Indodax: maker gratis, taker sekitar Rp3.000.
  • Tokocrypto: sekitar Rp1.000.
  • Pintu App: spread sekitar 0,5–1 persen.
  • Pintu Pro: maker sekitar Rp450 dan taker Rp700.

Secara umum, Pintu Pro menawarkan biaya trading paling rendah untuk trader aktif, sedangkan Tokocrypto menjadi pilihan menarik bagi pemula karena biaya transaksinya sederhana tanpa spread yang besar.

Pajak Bitcoin di Indonesia

Perdagangan aset kripto juga dikenakan pajak sesuai ketentuan pemerintah yang mengacu pada PMK Nomor 68 Tahun 2022 beserta aturan perubahannya.

Ketentuannya meliputi:

  • PPh Final sebesar 0,1 persen dari nilai transaksi penjualan.
  • PPN sebesar 0,11 persen dari nilai transaksi.
  • Pajak dipotong secara otomatis oleh exchange resmi.

Sebagai contoh, apabila seseorang menjual Bitcoin senilai Rp10 juta, maka total pajak yang dikenakan sekitar Rp21 ribu.

Strategi DCA Cocok untuk Investor Pemula

Banyak investor memilih strategi Dollar Cost Averaging (DCA) untuk mengurangi risiko fluktuasi harga.

Konsepnya sederhana, yaitu membeli Bitcoin dengan nominal tetap secara berkala, misalnya Rp500 ribu setiap bulan.

Strategi ini membantu investor memperoleh harga rata-rata dalam jangka panjang tanpa harus menebak kapan harga Bitcoin berada di titik terendah.

Beberapa platform seperti Pintu dan Indodax bahkan telah menyediakan fitur pembelian otomatis sesuai jadwal yang ditentukan pengguna.

Risiko Investasi Bitcoin yang Perlu Dipahami

Sebelum berinvestasi, penting memahami sejumlah risiko yang melekat pada Bitcoin.

Di antaranya:

  • Harga dapat naik maupun turun sangat tajam dalam waktu singkat.
  • Regulasi pemerintah dapat berubah sewaktu-waktu.
  • Tidak semua exchange memiliki kondisi keuangan yang sehat.
  • Banyak modus penipuan berkedok investasi kripto.
  • Bitcoin tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Karena itu, investor sebaiknya hanya menggunakan dana yang siap menanggung risiko.

Pilih Hot Wallet atau Cold Wallet?

Setelah membeli Bitcoin, penyimpanan aset juga perlu diperhatikan.

Hot Wallet

Hot wallet merupakan dompet digital yang terhubung ke internet.

Kelebihannya:

  • Praktis digunakan.
  • Mudah untuk transaksi harian.

Namun, dompet jenis ini memiliki risiko lebih tinggi terhadap peretasan maupun phishing.

Cold Wallet

Cold wallet menyimpan private key secara offline sehingga tingkat keamanannya jauh lebih tinggi.

Perangkat seperti Ledger atau Trezor banyak digunakan oleh investor yang menyimpan Bitcoin dalam jumlah besar untuk investasi jangka panjang.

Prinsip yang sering digunakan di dunia kripto adalah "Not your keys, not your coins." Artinya, kepemilikan Bitcoin sepenuhnya berada di tangan pengguna jika private key disimpan sendiri, bukan di exchange.

Bagi pemula, memahami cara kerja Bitcoin, memilih platform resmi berizin OJK, menerapkan strategi investasi yang disiplin, serta menjaga keamanan aset merupakan fondasi penting sebelum mulai berinvestasi di pasar kripto. Dengan langkah yang tepat, investasi Bitcoin dapat dilakukan secara lebih aman dan terukur sesuai profil risiko masing-masing.


Berita Terkait


News Update