POSKOTA.CO.ID — Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026.
Penasihat Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), Idrus Marham, berharap forum tertinggi organisasi tersebut mampu melahirkan kepengurusan yang tidak hanya besar secara jumlah, tetapi juga kuat dalam menjalankan program demi kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, kekuatan NU saat ini sudah tidak diragukan lagi jika dilihat dari sisi jumlah jamaah maupun persebaran kader yang berada di berbagai sektor strategis, termasuk lintas partai politik.
"Gus Choi sudah menyampaikan bahwa secara kuantitas, semua lembaga survei mengatakan rata-rata di atas 50 persen umat Islam bila ditanya afiliasinya ke mana atau anggotanya ke mana adalah NU. Dan juga secara individual, kader-kader NU ini ada di mana-mana," ujar Idrus usai menghadiri Sarasehan Nasional di Kantor DNIKS, Jakarta, Jumat, 10 Juli 2026.
Baca Juga: Ini Alasan KPK Periksa Anggota DPRD Temanggung Terkait Kasus Idrus Marham
Wakil Ketua Umum Partai Golkar itu mengatakan, besarnya jumlah kader NU harus menjadi modal utama bagi organisasi untuk mengambil peran lebih besar dalam pembangunan nasional.
Menurut dia, kader NU saat ini tersebar hampir di seluruh partai politik sehingga dibutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan kekuatan tersebut dalam satu visi yang sama.
"Kalau kita bicara tentang konsep kepartaian, kader NU ada di semua partai di Indonesia. Tidak hanya di PKB, tetapi juga ada di Golkar, Gerindra, NasDem, PDI Perjuangan, dan partai-partai lainnya," ucap Idrus.
Atas dasar itu, Idrus berharap Muktamar NU ke-35 dapat melahirkan kepengurusan yang mampu menjadi inspirator, inisiator, motivator sekaligus eksekutor berbagai program organisasi.
Baca Juga: Idrus Marham soal Bencana di Sumatra: Jangan Saling Menyindir, Turun ke Lokasi Bencana
Idrus mengatakan, NU tidak boleh hanya dikenal sebagai organisasi dengan jumlah anggota terbesar, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
"Oleh karena itu, kita harapkan kepengurusan NU yang dihasilkan oleh Muktamar NU ke-35 pada bulan Agustus yang akan datang betul-betul melahirkan kepengurusan NU yang mampu menjadi inspirator, mampu menjadi inisiator, mampu menjadi motivator, dan mampu melakukan eksekusi terhadap program-program yang ada," ucapnya.
Ia menilai kepengurusan baru juga harus mampu mengakomodasi seluruh potensi kader yang tersebar di berbagai bidang agar dapat bersinergi dengan pemerintah melalui pendekatan gagasan, konsep, dan program kerja yang konkret.
"Kalau kita melihat anatomi ini, di mana kadernya ada di mana-mana, NU jemaahnya ada di mana-mana. Oleh karena itu kepengurusan yang ada harus mencerminkan dan mengakomodasi semua itu sehingga mampu menjadi penggerak. Ide-ide yang bagus itu harus dilaksanakan, kemudian sinergi dengan pemerintah melalui pendekatan konseptual, pendekatan gagasan, dan pendekatan program," katanya.
Mantan Menteri Sosial ini meyakini, apabila koordinasi antara pengurus pusat, daerah, hingga kader di akar rumput berjalan baik, maka kontribusi NU terhadap pembangunan nasional akan semakin kuat, bukan hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas.
"Dengan cara seperti itu maka tentu ke depan ini semakin memperkuat posisi NU yang besar tidak hanya secara kuantitas, tetapi secara kualitas yang ditandai dengan konsep-konsep sebagai sumbangsih terhadap program-program pembangunan untuk rakyat," ujar Idrus.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan organisasi sangat bergantung pada kemampuan pengurus dalam mengelola potensi kader yang tersebar di berbagai sektor. Menurutnya, koordinasi yang baik akan membuat peran kader NU semakin kuat dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.
"NU memiliki tanggung jawab untuk bagaimana kader-kader yang ada di mana-mana ini dilakukan koordinasi dengan baik, sehingga kader di mana pun mereka berada, posisinya semakin mantap, perannya semakin kuat, konsep-konsep yang dilaksanakan untuk kepentingan rakyat, menyelesaikan masalah rakyat, memenuhi kebutuhan rakyat, dan memberikan harapan masa depan rakyat yang lebih baik," ungkap dia.
Selain itu, Idrus juga mengingatkan agar pengurus yang terpilih nantinya benar-benar memiliki kapasitas kepemimpinan dan tidak justru bergantung kepada pihak lain dalam menjalankan organisasi.
"Ini hanya bisa dilakukan tergantung pada pengurusnya. Jangan sampai pengurus mau diurus," tegasnya.
Menurut Idrus, kepemimpinan yang memiliki gagasan dan kemampuan intelektual akan membuat organisasi tetap mandiri serta tidak mudah dipengaruhi kepentingan di luar NU.
"Yang ideal adalah kader-kader NU yang ada di mana-mana memiliki konsep, memiliki ide, dan harus tampil. Kalau orang yang tampil tidak punya ide, pasti jadi boneka. Tetapi kalau yang muncul betul-betul punya kemampuan, punya ide, punya gagasan, dan tampil memimpin sendiri, maka ide itu dilaksanakan, diinspirasi oleh motivasi ideologis dari dalam," katanya.
Idrus mendorong kepengurusan NU mendatang agar lebih aktif mengambil peran dalam program-program pemberdayaan ekonomi masyarakat, mulai dari pengembangan UMKM, koperasi desa hingga sektor perikanan dan nelayan.
"Mestinya NU yang harus tampil mengambil andil. Misalkan pembentukan koperasi 83.000, warga NU yang ada di desa-desa kenapa tidak jadi pengurus? Masalah UMKM, koperasi, nelayan dan lain-lain, warga NU harus tampil. Pengurus harus mengurus jemaahnya, membangun komunikasi dengan pemerintah, mengajukan konsep. Gitu dong caranya," kata dia.
