"Selama enam tahun, Sayang Bumi membuktikan bahwa perubahan nyata dimulai dari langkah kolektif yang konsisten. Kami percaya generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan masa depan bumi," ujarnya.
Leny menambahkan, keterlibatan siswa dalam pengelolaan limbah elektronik diharapkan dapat meningkatkan kesadaran lingkungan sejak dini.
Berdasarkan data Global E-Waste Monitor 2024, Indonesia menjadi salah satu negara penghasil sampah elektronik terbesar di Asia Tenggara dengan timbunan mencapai 1,9 juta ton pada 2022.
Baca Juga: DLH Kabupaten Bekasi Targetkan 200 Bank Sampah pada 2026
Sementara secara global, jumlah sampah elektronik mencapai 62 juta ton per tahun dan sebagian besar belum didaur ulang secara benar.
Untuk menjamin pengelolaan yang aman, seluruh sampah elektronik yang terkumpul dari sekolah akan ditimbang, dicatat, dan dikirim ke fasilitas daur ulang berizin yang bekerja sama dengan EwasteRJ.
Melalui program ini, para pelajar diharapkan tidak hanya menjadi peserta kompetisi, tetapi juga agen perubahan yang mendorong budaya pengelolaan sampah elektronik secara bertanggung jawab di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
