Obrolan Warteg: Tak Selamanya Mengekor Itu Buruk

Sabtu 06 Jun 2026, 05:00 WIB
Ilustrasi Obrolan Warteg, Sabtu, 6 Juni 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Ilustrasi Obrolan Warteg, Sabtu, 6 Juni 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Oleh : Joko Lestari

POSKOTA.CO.ID – Belakangan mencuat penilaian dari kalangan pengamat mengenai posisi Indonesia dalam politik luar negeri masih berada pada level yang rendah, bahkan disebut seolah ikut-ikutan arus kekuatan global.

Merespons penilaian tersebut, Menlu Sugiono seperti diberitakan, mengatakan kehadiran Indonesia di banyak forum internasional dan berteman dengan semua pihak, cermin politik bebas aktif yang menekankan pentingnya bersikap netral, demi kepentingan nasionalnya.

Kehadiran Indonesia di berbagai negara dilakukan bukannya tanpa arah, tetapi sudah direncanakan secara matang berdasarkan pembahasan diplomatik dan prioritas nasional. Jadi bukan sekadar ikut – ikutan.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Teganya, Uang Rakyat untuk Bancakan

“Tapi ikut – ikutan tak selamanya buruk. Ikut berbuat kebaikan itu kan bagus, misalnya ikutan bersedekah, membantu orang yang lagi kesusahan,” ujar Heri bung Heri mengawali obrolan warteg akhir pekan bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.

“Setuju. Saya juga pernah ikut – ikutan. Sewaktu berkendara di jalan tol malam hari hujan lebat, saya terus mengikuti mobil berwarna cerah di depannya sebagai pemandu jalan,” kata Yudi.

“Itu bukan ikut – ikutan, tetapi mengekor namanya,” kata Heri..

“Mengekor juga tidak selamanya buruk. Buktinya dengan mengekor kendaraan di depannya yang lampunya lebih terang, mobil cerah sangat membantu perjalanan di tengah kegelapan,” jawab Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Pancasila Bukan Hafalan, tapi Dipraktikkan

“Terserah apa kata kalian. Yang jelas ikut – ikutan itu pertanda tidak punya sikap atas dasar inisiatif sendiri,” kata Heri.

“Jangan salah, ikut – ikutan itu tak ubahnya sebuah sikap. Meski kadang didasari karena tren yang sedang terjadi, terbawa emosi, situasi dan kondisi,” jelas mas Bro.

“Tapi, sebaiknya kita punya sikap yang ajeg, teguh pendirian, agar tidak terbawa arus dan situasi di sekeliling kita. Jangan lainnya ngidul, ikutan ngidul, ngalor ikutan ngalor, akhirnya ngalor ngidul nggak karuan,” kata Yudi.

“Jadi sifat ikut – ikutan perlu dihindari?” tanya Heri.

“Ditengarai, sifat ikut – ikutan dapat menghilangkan jati diri.Sementara jati diri itu penting bagi kita semua, terlebih jati diri bangsa dan negara. Prinsipnya jangan ikut – ikutan, kecuali satu: Ikut- ikutan berbuat kebajikan,” jawab Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Safari Politik Uji Respons Publik

“Kembali kepada politik luar negeri kita, menurut kalian bagaimana?” tanya Heri lagi.

‘Kan, sudah dijelaskan oleh Menlu Sugiono, tetap berlandaskan pada prinsip bebas aktif , di mana Indonesia bebas menentukan sikap tanpa memihak blok tertentu, tetapi adaptif terhadap arisitekur geopolitik yang cepat berubah,“ jelas mas Bro.

“Jika ada yang mengkritisi tentang kebijakan politik luar negeri kita yang belakangan ini, bagian dari upaya mengingatkan agar tidak bergeser dari jati dirinya,” kata Heri.

“Sikapi kritik dengan bijak karena kritik untuk kebaikan, bukan keburukan. Kritik adalah pengawal jiwa kita agar selalu berjalan di rel yang baik dan benar,” tambah Yudi.


Berita Terkait


News Update