“Jangan salah, ikut – ikutan itu tak ubahnya sebuah sikap. Meski kadang didasari karena tren yang sedang terjadi, terbawa emosi, situasi dan kondisi,” jelas mas Bro.
“Tapi, sebaiknya kita punya sikap yang ajeg, teguh pendirian, agar tidak terbawa arus dan situasi di sekeliling kita. Jangan lainnya ngidul, ikutan ngidul, ngalor ikutan ngalor, akhirnya ngalor ngidul nggak karuan,” kata Yudi.
“Jadi sifat ikut – ikutan perlu dihindari?” tanya Heri.
“Ditengarai, sifat ikut – ikutan dapat menghilangkan jati diri.Sementara jati diri itu penting bagi kita semua, terlebih jati diri bangsa dan negara. Prinsipnya jangan ikut – ikutan, kecuali satu: Ikut- ikutan berbuat kebajikan,” jawab Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Safari Politik Uji Respons Publik
“Kembali kepada politik luar negeri kita, menurut kalian bagaimana?” tanya Heri lagi.
‘Kan, sudah dijelaskan oleh Menlu Sugiono, tetap berlandaskan pada prinsip bebas aktif , di mana Indonesia bebas menentukan sikap tanpa memihak blok tertentu, tetapi adaptif terhadap arisitekur geopolitik yang cepat berubah,“ jelas mas Bro.
“Jika ada yang mengkritisi tentang kebijakan politik luar negeri kita yang belakangan ini, bagian dari upaya mengingatkan agar tidak bergeser dari jati dirinya,” kata Heri.
“Sikapi kritik dengan bijak karena kritik untuk kebaikan, bukan keburukan. Kritik adalah pengawal jiwa kita agar selalu berjalan di rel yang baik dan benar,” tambah Yudi.
