Pemerintah, kata Mahawan, perlu membangun sistem, bukan hanya membersihkan lokasi yang sifanya bukan solutif.
Baca Juga: Belajar dari CopenHill, Pakar Ingatkan Jakarta Jangan Sekadar Tiru Teknologi Pengolahan Sampah
Respons cepat di Muara Angke penting, namun akar masalahnya ada pada pencegahan sampah dari sumber, pengendalian sampah di sungai, koordinasi lintas wilayah, penegakan hukum, penguatan ekonomi sirkular, dan pemulihan ekosistem pesisir.
"Teluk Jakarta tidak boleh terus diperlakukan sebagai halaman belakang kota," jelasnya.
"Teluk Jakarta adalah wajah ekologis Jakarta, dan kualitasnya mencerminkan keseriusan kita mengelola kota secara berkelanjutan," sambung Mahawan.
Nelayan Kerang Hijau Terdampak

Sejumlah nelayan kerang hijau di Muara Angke mengeluhkan keberadaan sampah yang berada di perairan Teluk Jakarta. Suara keresahan itu sudah datang sejak dulu, bahkan saat ada proyek Reklamasi di Kepulauan Seribu.
Para nelayan menolak adanya proyek reklamasi di Kepulauan Seribu yang dianggap merusak ekosistem laut.
Salah satu penolakan datang dari seorang nelayan bernama Kalil, yang sejak dulu menentang segala bentuk perusakan ekosistem laut salah satu diantaranya yakni penolakan terhadap proyek Reklamasi di Pulau Seribu.
Kalil menyampaikan, keberadaan sampah di perairan Teluk Jakarta sangat berdampak terhadap hasil tangkapan ikan serta hasil budidaya kerang hijau yang ia kembangkan.
"Dampaknya bagi nelayan ya penurunan, penyusutan hasil tangkapan," kata Kalil kepada Pos Kota saat ditemui, Kamis, 4 Juni 2026.
Selain itu, Kalil yang merupakan pembudidaya kerang hijau ini mengaku juga sangat merasakan dampak dari keberadaan sampah yang menyebabkan lingkungan tercemar.
Hal ini juga berdampak terhadap hasil budidaya kerang hijau yang dia miliki, yang dampaknya menjadi penyusutan hasil tangkapan dan juga kualitas kerang yang kurang bagus.
