Bagi Hans, keterlibatannya dalam mendampingi para mualaf bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak awal. Ia justru melihatnya sebagai rangkaian takdir yang perlahan terbuka.
Sebagai keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Indonesia, ia pernah bertanya-tanya mengenai makna di balik latar belakangnya tersebut. Jawaban atas pertanyaan itu, menurutnya, datang melalui perjalanan belajar Islam dan Bahasa Mandarin.
“Bumi Allah luas sekali. Kenapa saya harus lahir sebagai orang Tionghoa di Indonesia? Lama-lama saya paham, ternyata bahasa Mandarin yang saya pelajari bisa menjadi sarana dakwah,” katanya.
Momentum itu semakin terasa ketika suatu hari imam Masjid Lautze meminta bantuannya mendampingi seorang warga Tiongkok yang ingin memeluk Islam, namun tidak dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.
“Beliau bilang, ‘Hans, ada calon mualaf dari Tiongkok, tidak bisa bahasa Indonesia dan Inggris, bisanya Bahasa China. Antum bantu ya.’ Saat itu saya merinding. Saya merasa ini jawaban dari pertanyaan hidup saya, kenangnya.
Baca Juga: 5 Masjid di Jakarta yang Buka Itikaf 10 Malam Terakhir Ramadan, Fasilitasnya Lengkap
Sejak peristiwa itu, proses pensyahadatan di Masjid Lautze semakin sering terjadi. Jika dihitung secara keseluruhan, termasuk mualaf dari Jepang dan Korea yang belajar bahasa di Jakarta, jumlah orang yang ia pandu untuk bersyahadat hampir mencapai 100 orang. Lebih dari setengahnya berasal dari Tiongkok.
Diskusi hingga Pencarian Spiritual
Motivasi mereka memeluk Islam beragam. Ada yang datang setelah melalui pencarian spiritual panjang. Ada pula yang tertarik setelah berdiskusi dengan teman Muslim atau mempelajari Islam secara mandiri. Sebagian lainnya awalnya datang karena ingin menikah dengan pasangan Muslim.
Namun bagi Hans, setiap calon mualaf harus memahami ajaran dasar Islam sebelum mengucapkan syahadat.
“Kami jelaskan dulu Islam itu seperti apa, rukun iman, rukun Islam, kenapa salat lima waktu. Kadang ada yang awalnya ingin cepat syahadat, tapi setelah dijelaskan justru ingin belajar lebih dalam,” ujarnya.
Tidak jarang calon mualaf menghabiskan waktu berjam-jam di masjid setelah bersyahadat. Mereka ingin memahami lebih jauh tentang ajaran yang baru saja mereka pilih.
