Apakah Puasa Sah Jika Lupa Niat? Begini Hukumnya Menurut Penjelasan Buya Yahya

Kamis 19 Feb 2026, 14:48 WIB
Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya. (Sumber: Instagram/@buyayahya_albajah)

Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya. (Sumber: Instagram/@buyayahya_albajah)

POSKOTA.CO.ID - Pertanyaan seputar sah atau tidaknya puasa Ramadhan masih kerap menjadi perbincangan di tengah masyarakat.

Salah satu persoalan yang paling sering muncul adalah ketika seseorang lupa melafalkan niat puasa pada malam hari.

Kondisi ini tidak jarang menimbulkan kebingungan, bahkan membuat sebagian orang merasa cemas dan ragu untuk melanjutkan puasanya keesokan hari.

Dalam ibadah puasa Ramadhan, niat merupakan salah satu rukun utama yang menentukan sah atau tidaknya puasa.

Secara fikih, niat puasa wajib dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar.

Hal inilah yang sering menjadi sumber kekhawatiran ketika seseorang terbangun sahur atau bahkan sudah memasuki siang hari dan baru menyadari bahwa dirinya lupa berniat.

Lantas, apa hukumnya jika puasa namun lupa membaca niat? Simak penjelasan lengkapnya menurut pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya.

Baca Juga: Link Download Buku Kegiatan Ramadhan 2026 PDF dan DOC Gratis: Jurnal Puasa Siswa SD–MA yang Bisa Diedit

Apakah Puasa Sah Jika Lupa Niat?

Dilansir dari kanal YouTube Al-Bahjah TV, pada Kamis, 19 Februari 2026, Buya Yahya menjelaskan, niat pada dasarnya adalah kesengajaan di dalam hati untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Niat tidak selalu harus dilafalkan dengan lisan, apalagi dengan bacaan yang panjang.

Selama ada kesadaran dan kehendak untuk berpuasa, maka niat tersebut pada hakikatnya sudah ada di dalam hati.

Menurut Buya Yahya, lupa niat tidak serta-merta membuat puasa seseorang batal.

Dalam penjelasannya, terdapat beberapa pendapat ulama yang memberikan kemudahan bagi umat Islam agar tidak terjebak pada kesulitan beragama.

Salah satunya adalah ketika seseorang sudah melakukan aktivitas yang menunjukkan maksud berpuasa, seperti bangun sahur.

Sahur, menurut penjelasan tersebut, dapat menjadi indikasi kuat adanya niat puasa.

Sebab, makan di waktu yang tidak lazim pada dini hari menunjukkan tujuan yang jelas, yakni untuk berpuasa.

Oleh karena itu, dalam kondisi tertentu, puasa tetap bisa dinilai sah meskipun seseorang lupa melafalkan niat secara khusus.

Baca Juga: Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Jakarta, Depok, dan Bogor, KLIK DI SINI

Buya Yahya juga menekankan, perbedaan pendapat dalam fikih adalah hal yang wajar.

Ada pendapat yang mewajibkan niat setiap malam, namun ada pula pendapat yang membolehkan niat puasa Ramadhan dilakukan untuk satu bulan penuh di awal Ramadhan.

Pendapat ini sering dijadikan pegangan sebagai bentuk antisipasi jika suatu malam seseorang benar-benar lupa berniat.

Meski demikian, Buya Yahya mengingatkan agar kemudahan tersebut tidak disalahgunakan.

Jika seseorang masih dalam keadaan sadar dan ingat, maka tetap dianjurkan untuk berniat setiap malam sebagai bentuk kehati-hatian dan kesempurnaan ibadah.

Kesalahpahaman lain yang sering terjadi di masyarakat adalah anggapan bahwa niat harus diucapkan dengan lafaz Arab yang panjang dan baku.

Buya Yahya meluruskan pandangan tersebut dengan menegaskan bahwa niat tidak bergantung pada bahasa tertentu.

Niat boleh dilakukan dengan bahasa apa pun, bahkan cukup dilintaskan di dalam hati dengan kalimat sederhana.

Yang terpenting adalah adanya kesadaran dan tujuan jelas untuk menjalankan puasa Ramadhan keesokan harinya.


Berita Terkait


News Update