POSKOTA.CO.ID - Salat Tarawih menjadi ibadah sunnah yang selalu identik dengan suasana Ramadhan 2026. Di berbagai masjid, pelaksanaannya kerap dilengkapi dengan bilal yang membantu memberi aba-aba atau penanda jumlah rakaat.
Namun di tengah masyarakat, masih muncul pertanyaan apakah penggunaan bilal dalam salat Tarawih itu wajib. Bahkan, tidak sedikit yang memperdebatkannya hingga mengaitkannya dengan istilah bid’ah.
Perbedaan praktik ini pun membuat sebagian jamaah merasa ragu, terutama ketika menemukan masjid yang tidak menggunakan bilal sama sekali saat Tarawih berlangsung.
Menanggapi hal tersebut, Buya Yahya memberikan penjelasan tegas bahwa penggunaan bilal dalam salat Tarawih bukanlah kewajiban dan tidak bisa langsung disebut sebagai bid’ah.
Baca Juga: 3 Resep Buka Puasa Simpel ala Chef Devina Hermawan, Praktis dan Lezat untuk Menu Ramadhan
Bilal Hanya Membantu Menghitung Rakaat
Dalam ceramahnya yang diunggah di channel YouTube Buya Yahya, beliau menjelaskan bahwa istilah bilal dalam salat Tarawih merujuk pada orang yang membantu memberi komando atau penanda rakaat.
“Bilal itu tidak harus. Bilal itu kan nama sahabat Nabi yang menjadi tukang azannya Rasulullah. Kemudian digunakan istilah untuk orang memberikan komando dalam salat,” ujar Buya Yahya dikutip Poskota pada, 19 Februari 2026.
Ia menegaskan bahwa fungsi bilal hanyalah untuk mempermudah hitungan rakaat, khususnya ketika Tarawih dilaksanakan 20 rakaat. “Sebetulnya bilal itu untuk mempermudah hitungannya saja. Kalau gak pakai bilal, imamnya pusing. Sudah suruh ngitung, suruh jadi imam, pusing,” jelasnya.
Menurutnya, keberadaan bilal adalah bentuk tolong-menolong agar imam lebih ringan dalam memimpin salat. “Bilal itu hanya sekadar untuk mempermudah hitungan dan bacaannya. Tidak harus dengan itu. Enggak pakai bilal pun juga sah-sah saja dan bukan bidah,” tegasnya.
Baca Juga: Doa Awal Ramadhan yang Diamalkan Rasulullah SAW: Lengkap Latin, Arti dan Keutamaannya
Bukan Semua Hal Disebut Bid’ah
Buya Yahya juga mengingatkan agar umat Islam tidak mudah melabeli sesuatu sebagai bid’ah. “Bilal itu sebagian orang itu berlebihan, dikit-dikit bidah semuanya jadi bidah. Umat Islam ahli bidah semuanya ini,” katanya.
