Tradisi Ziarah Kubur Jelang Puasa Ramadhan 2026 Ramai, Apa Hukumnya? Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad

Minggu 08 Feb 2026, 12:25 WIB
Tradisi ziarah kubur jelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah atau tahun 2026. (Sumber: Poskota/Bilal Nugraha Ginanjar)

Tradisi ziarah kubur jelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah atau tahun 2026. (Sumber: Poskota/Bilal Nugraha Ginanjar)

Namun, seiring dengan menguatnya iman umat Islam, tujuan ziarah pun berubah.

Ziarah kubur kemudian dimaknai sebagai sarana mengingat kematian, melembutkan hati, dan menumbuhkan kesadaran akan kehidupan akhirat.

Ustadz Abdul Somad menjelaskan, larangan ziarah kubur yang pernah disampaikan Nabi Muhammad SAW bersifat sementara dan telah dihapus atau dimansukh.

Setelah tujuan ziarah berubah menjadi sarana pengingat kematian dan introspeksi diri, Rasulullah pun membolehkannya.

Bahkan, Rasulullah tidak hanya menganjurkan secara lisan, tetapi juga mencontohkan langsung dengan berziarah ke makam ibundanya, Siti Aminah, serta ayahandanya, Abdullah.

Menjelang wafatnya, Nabi juga menziarahi makam para syuhada Uhud sebagai bentuk penghormatan dan pengingat akan akhir kehidupan dunia.

Menurut UAS, praktik langsung Rasulullah tersebut menjadi dalil kuat ziarah kubur merupakan amalan yang disunnahkan, selama dilakukan dengan niat yang benar dan adab yang sesuai syariat.

Lebih lanjut, Ustadz Abdul Somad menegaskan, Islam tidak menetapkan waktu khusus yang melarang atau mewajibkan ziarah kubur.

Tidak ada dalil yang membatasi ziarah hanya pada hari tertentu atau melarangnya pada momen tertentu, termasuk menjelang Ramadhan.

Dengan demikian, tradisi ziarah kubur sebelum Ramadhan yang dilakukan masyarakat selama ini tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Selama tujuannya untuk mendoakan ahli kubur, mengingat kematian, dan mempersiapkan diri menyambut bulan suci, maka ziarah tersebut justru bernilai kebaikan.

Ustadz Abdul Somad juga menekankan bahwa ziarah kubur menjelang Ramadhan memiliki nilai spiritual yang mendalam.


Berita Terkait


News Update