POSKOTA.CO.ID - Industri sepeda motor listrik nasional memasuki fase baru setelah pemerintah resmi menghentikan program insentif pembelian kendaraan listrik roda dua.
Kebijakan tersebut sempat berdampak pada perlambatan penjualan, terutama pada masa transisi akhir 2024 hingga awal 2025.
Chief Executive Officer Alva, Purbaja Pantja mengakui penghentian subsidi pembelian yang sebelumnya mencapai Rp7 juta per unit membuat pasar sempat bergejolak. Namun menurutnya, kondisi tersebut justru mendorong perubahan perilaku konsumen ke arah yang lebih matang.
Purbaja menilai, dinamika tanpa subsidi membuat konsumen tidak lagi hanya berfokus pada harga, melainkan mulai mempertimbangkan kualitas dan performa kendaraan listrik.
Baca Juga: Suzuki e-VITARA Hadir dengan Banyak Kelebihan, dari Fitur Safety hingga Garansi Panjang
“Kalau kita lihat perjalanan industri motor listrik di Indonesia, sebenarnya edukasi dan awareness itu terus meningkat. Dulu pertanyaannya sangat basic, seperti ‘kalau hujan kesetrum enggak?’. Sekarang sudah berubah, orang lebih banyak bertanya soal performa. Itu menurut saya sinyal yang sangat baik,” ujar Purbaja.
Menurutnya, perubahan pola pikir tersebut menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan industri motor listrik dalam jangka panjang.
Purbaja tidak menampik, dampak pencabutan subsidi cukup terasa pada awal masa transisi. Penurunan penjualan terjadi setelah pasar yang sebelumnya sangat bergantung pada stimulus pemerintah harus menyesuaikan diri.
Ia menyebut, stabilisasi mulai terlihat seiring meningkatnya pemahaman konsumen terhadap nilai guna kendaraan listrik.
Baca Juga: Balqis Humaira Siapa dan Kerja Apa? Viral Singgung Kasus Raja Minyak Riza Chalid
“Penurunan memang terjadi di awal masa transisi. Tapi menjelang akhir tahun suasananya sudah jauh lebih baik. Kami optimistis 2026 hasilnya akan lebih baik dibanding 2025,” katanya.
Strategi Bertahap dari Segmen Premium

