POSKOTA.CO.ID - “Hendaknya tidak menunggu yang susah menjadi mudah, tetapi mereformasi kebijakan yang susah menjadi mudah, yang rumit menjadi sederhana demi mendorong segera terwujudnya kesejahteraan dan keadilan sosial sebagaimana tujuan negeri ini didirikan," kata Harmoko
Banyak orang memilih hidup penuh dengan tantangan daripada serba gampang, terlebih gampangan. Mengapa? Jawabnya tentu akan beragam, tetapi tidak tak sedikit yang menilai suasana penuh tantangan itu sebagai karunia.
Ini merujuk karena tantangan akan memacu semangat untuk bekerja maksimal dan berupaya sungguh-sungguh.
Agama apa pun mengajarkan agar kita senantiasa bersungguh-sungguh dalam ucapan, sikap dan perbuatan, termasuk ketika berusaha atau berikhtiar mencapai tujuan.
Baca Juga: Kopi Pagi: Kemandirian Parpol Mendesak
Tantangan diyakini akan memompa semangat dan kesungguhan untuk terus bergerak melakukan perubahan.
Tokoh-tokoh hebat dunia, baik ilmuwan, negarawan, olahragawan, politikus, pengusaha, dan siapapun juga meraih sukses karena adanya tantangan yang dihadapi. Tantangan acap berada di hadapannya, dan di lingkungan sekitarnya.
Mereka menjadi hebat dan unggul karena ada pesaing dan mampu menghadapi persaingan-unggul dalam kontestasi. Menjadi presiden, gubernur, bupati, wali kota karena berhasil melewati persaingan sesama kontestan dalam pilpres dan pilkada.
Tanpa pesaing, apa pun atau siapapun tidak akan menjadi hebat. Maknanya, orang yang cenderung menghindari persaingan, dapat diduga akan biasa-biasa saja.
Baca Juga: Kopi Pagi: Mari Jaga Bumi Kita
Tak berlebihan sekiranya upaya sungguh – sungguh untuk mencapai tujuan bangsa, sudah dipesankan oleh para leluhur kita yang terkristal melalui butir-butir falsafah bangsa.
Butir ke-11 sila kelima falsafah bangsa, secara tegas mengajak anak bangsa untuk jangan segan, apalagi takut melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
Program Astacita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto adalah tantangan yang tidak ringan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), swasembada pangan, air dan energi. Bukan saja karena menyerap anggaran jumbo, di tengah keterbatasan dan efisiensi anggaran, juga penyediaan fasilitas, sarana dan prasarana, tak terkecuali SDM untuk menyiapkan makanan bergizi bagi puluhan juta orang setiap harinya.
Jika sekarang sudah lebih 55 juta orang penerima MBG, maka tak ubahnya memberi makan bergizi kepada rakyat 10 negara setara Singapura.
Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat sepanjang tahun 2025 telah menyajikan lebih 3 miliar porsi makanan bergizi, sejak MGB digulirkan 6 Januari 2025.
Begitu juga swasembada pangan (beras) yang semula dinilai awang-awang, kini telah menjadi kenyataan. Itu pertanda keberhasilan mengubah tantangan menjadi peluang yang secara terus menerus harus dijaga konsistensinya, menjadi komitmen bersama membangun negeri kita ini.
Baca Juga: Kopi Pagi: Tanggap Kehendak Rakyat
Ingat! Tantangan akan selalu datang dalam pola dan ragam yang berbeda. Capaian target MBG akan memunculkan tantangan berikutnya, setidaknya menjaga keberlangsungannya.
Swasembada beras akan mendatangkan tantangan di kemudian hari, selain menjaga keberlangsungan swasembada, limpahan produksi beras menuntut tersedianya gudang penyimpanan untuk menjaga kualitas beras, penyerapan gabah hasil panen petani, penyaluran beras beras untuk bantuan sosial dan kebutuhan masyarakat.
Belum lagi bicara swasembada pangan bukan hanya beras, juga komoditas pangan lainnya seperti jagung, kedelai, gula dan lainnya, tak terkecuali pangan lokal.
Mengubah tantangan menjadi peluang harus menjadi sikap hidup. utamanya para elite dan pejabat publik dalam merumuskan kebijakan untuk rakyat.
Baca Juga: Kopi Pagi: Implementasi Kolaborasi
Kita wajib meyakini bahwa di balik tantangan terdapat peluang, di balik kesulitan akan tersembul kemudahan.
Peristiwa Israj Miraj yang baru saja kita peringati, kian menyadarkan kepada kita bahwa segala kesulitan pasti ada kemudahan. Segala hal akan menjadi mudah dengan izin Yang Maha Kuasa. Tentu, dilandasi dengan kesungguhan, kesabaran dan ketulusan melakukan kebaikan bagi kehidupan masyarakat, bukan keburukan.
Kesabaran akan membawa kita kepada kesuksesan. Dengan bersabar sejatinya kita dituntut mengendalikan diri untuk tidak cepat menyerah terhadap keadaan.
Pitutur luhur mengajarkan kesabaran bukan berarti diam tak bergerak di saat tertimpa musibah. Bersabar adalah aktif bergerak mencari kebaikan saat musibah datang. Mengurai yang susah menjadi mudah.
Dalam tataran kehidupan berbanga dan bernegara, hendaknya tidak menunggu yang susah menjadi mudah, tetapi bagaimana mereformasi kebijakan yang susah menjadi mudah, yang rumit menjadi sederhana demi mendorong segera terwujudnya kesejahteraan dan keadilan sosial sebagaimana tujuan negeri ini didirikan, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.
Membuat kebijakan yang rumit dan berbelit, tidak dipahami publik, terlebih untuk memenuhi ambisi pribadi dan kekuasaannya, tak saja jauh dari kehendak rakyat, juga tak sejalan dengan cita – cita perjuangan para pendiri negeri.
Mari sederhanakan kebijakan, bukan persult aturan. Ubah yang susah menjadi mudah, bukan yang sudah mudah dibuat susah demi memenuhi ambisi pribadi, kelompoknya dan kekuasaannya. (Azisoko)
