Anak Menkeu Purbaya Angkat Bicara Soal Kasus Kripto Timothy Ronald: Sentil Korban 'Tak Mau Belajar'

Sabtu 17 Jan 2026, 16:59 WIB
Yudo Sadewa anak Menkeu Purbaya - Pernyataan yang menyentil korban Akademi Crypto karena dianggap FOMO dan tak mau belajar memicu pro dan kontra di media sosial. (Sumber: tangkapan layar)

Yudo Sadewa anak Menkeu Purbaya - Pernyataan yang menyentil korban Akademi Crypto karena dianggap FOMO dan tak mau belajar memicu pro dan kontra di media sosial. (Sumber: tangkapan layar)

POSKOTA.CO.ID - Pernyataan Yudo Sadewa, anak Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa, tengah menjadi sorotan publik. Ia angkat bicara mengenai kasus dugaan penipuan investasi kripto yang menjerat influencer Timothy Ronald.

Lewat akun TikTok pribadinya, Yudo menyampaikan pembelaan terhadap Timothy Ronald. Namun, gaya penyampaiannya yang menyentil korban justru memicu perdebatan luas di media sosial.

Sebagai influencer di bidang keuangan, Yudo menilai bahwa kerugian para member Akademi Crypto lebih disebabkan oleh kurangnya pemahaman dan sikap spekulatif para trader pemula.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Datangi dan Bawa Tim IT ke Kantor Danantara untuk Cek Sistem Coretax yang Dikeluhkan Error

Sentilan 'Tidak Mau Belajar' untuk Korban

Dalam unggahannya, Yudo menyebut bahwa banyak pihak yang merasa dirugikan sebenarnya tidak benar-benar mempelajari materi edukasi yang disediakan di Akademi Crypto.

Menurutnya, para member hanya menginginkan rekomendasi instan atau “call” tanpa mau memahami dasar-dasar trading kripto.

“Muridnya FOMO, mungkin tanpa Timothy juga mereka akan rugi. Kenapa? Mereka tidak mau belajar, maunya cari call-nya saja. Padahal Akademi Crypto produk utamanya kan video edukasi,” ujar Yudo.

Ia juga menyinggung bahwa para korban didorong oleh rasa FOMO atau Fear of Missing Out, sehingga berani menempatkan dana besar di aset kripto yang berisiko tinggi.

Soroti Ekspektasi Keuntungan Tidak Realistis

Tak berhenti di situ, Yudo menyindir ekspektasi para trader pemula yang berharap keuntungan fantastis dalam waktu singkat.

“Halah bilang aja lo FOMO. Gue sih udah jual Manta di 3.8 dolar, mana ada baru main 1 minggu dapat McLaren,” tulisnya.

Ungkapan tersebut dinilai sebagian warganet terlalu keras dan tidak menunjukkan empati kepada para korban yang mengalami kerugian besar.

Baca Juga: Purbaya Andalkan 3 Sektor Utama untuk Genjot Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia

Singgung Aspek Hukum dan Bukti On-Chain

Yudo juga memberikan pandangannya dari sisi hukum. Ia menjelaskan bahwa dugaan penipuan tidak bisa dipidanakan tanpa adanya bukti transaksi on-chain yang menunjukkan Timothy menerima bayaran untuk praktik pump and dump.

“Kecuali ada bukti on-chain kalau Timothy dibayar developer untuk pump and dump, baru bisa dipidanakan. Kalau enggak ada? Bisa tuntut balik atas pencemaran nama baik,” tulis Yudo.

Pernyataan ini menegaskan bahwa Yudo menilai tuduhan terhadap Timothy masih perlu dibuktikan secara teknis dan hukum.

Tetap Ingatkan Pemula agar Tidak Mudah Percaya

Meski membela Timothy Ronald, Yudo tetap memberikan pesan kepada para trader pemula agar tidak menelan mentah-mentah rekomendasi siapa pun, termasuk dirinya.

“Jangan pernah percaya siapa pun termasuk aku sekalipun, semua orang bisa salah,” tulisnya.

Pesan tersebut dimaksudkan sebagai pengingat bahwa investasi kripto memiliki risiko tinggi dan setiap keputusan tetap berada di tangan investor.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Siapkan Layer Cukai Terbaru, Cek Daftar Golongan Tarif Cukai Rokok di Sini

Pernyataan Yudo Picu Pro dan Kontra

Tanggapan Yudo Sadewa kini memicu dua kubu di media sosial. Ada yang menilai komentarnya realistis dan mencerminkan kerasnya dunia investasi kripto.

Namun, tidak sedikit pula yang menganggap pernyataan tersebut terlalu menyudutkan korban dan terkesan membela influencer yang sedang dilaporkan.

Hingga saat ini, kasus Timothy Ronald sendiri masih dalam tahap penyelidikan di Polda Metro Jaya. Sementara itu, sikap dan komentar Yudo Sadewa terus menjadi perbincangan publik.


Berita Terkait


News Update