Strategi Likuiditas dan Optimisme Ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa Menuju Pertumbuhan 8 Persen

Senin 12 Jan 2026, 19:21 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat berdialog di kanal YouTube Endgame membahas strategi likuiditas dan arah ekonomi Indonesia menuju pertumbuhan 8 persen. (Sumber: Youtube/@Gita Wirjawan)

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat berdialog di kanal YouTube Endgame membahas strategi likuiditas dan arah ekonomi Indonesia menuju pertumbuhan 8 persen. (Sumber: Youtube/@Gita Wirjawan)

POSKOTA.CO.ID - Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen dalam beberapa tahun ke depan. Target ambisius ini disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam dialog bersama Gita Wirjawan di kanal YouTube Endgame.

Dalam wawancara tersebut, Purbaya menegaskan bahwa kunci utama akselerasi ekonomi terletak pada pengelolaan likuiditas yang tepat, kebijakan domestik yang konsisten, serta optimisme kolektif.

Sebagai ekonom senior dengan pengalaman panjang di kebijakan moneter dan fiskal, Purbaya menilai bahwa Indonesia memiliki fondasi kuat untuk tumbuh lebih cepat, asalkan tidak mengulang kesalahan lama dalam mengerem peredaran uang dan investasi.

Koreksi Kebijakan Likuiditas: Belajar dari Gejolak Masa Lalu

Purbaya mengawali pemaparannya dengan refleksi kritis terhadap berbagai gejolak ekonomi yang pernah terjadi. Ia menilai, instabilitas yang muncul kerap disalahartikan sebagai dampak faktor global atau politik, padahal akar persoalannya sering berasal dari kebijakan domestik yang terlalu ketat.

Baca Juga: Purbaya Tegaskan Bantuan Kemanusiaan Sumatera Tak Kena PPN Tahun 2026

“Gejolak yang terjadi bukan karena politik atau global, tapi karena kita mengerem pertumbuhan ekonomi karena tidak cukup uang di sistem,” ujar Purbaya dalam dialog tersebut dikutip Senin, 12 Januari 2026.

Sebagai langkah awal, Kementerian Keuangan memindahkan dana pemerintah yang sebelumnya mengendap di Bank Sentral ke perbankan umum.

Nilainya mencapai sekitar Rp200 triliun. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan likuiditas, menurunkan suku bunga pasar, serta mendorong kredit produktif.

“Uang pemerintah jangan menganggur. Kalau masuk ke sistem perbankan, ekonomi bergerak,” jelasnya.

Langkah ini sekaligus memperkuat transmisi kebijakan fiskal ke sektor riil, terutama bagi dunia usaha dan UMKM.

Negara dan Swasta Bergerak Bersama

Dalam pandangan Purbaya, pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa lalu sering berjalan dengan satu mesin saja. Pada periode tertentu, sektor swasta tumbuh pesat namun belanja negara terbatas. Di periode lain, pemerintah agresif tetapi sektor swasta melemah.

Kini, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memilih pendekatan berbeda dengan mengaktifkan dua mesin sekaligus: belanja negara yang produktif dan sektor swasta yang ekspansif.

“Kalau sekarang saya gabungin dua-duanya supaya mesinnya dua-duanya bekerja. Harusnya 6,5 persen tidak susah-susah amat,” tegas Purbaya.

Menurutnya, pertumbuhan 6,5 persen merupakan fondasi realistis. Untuk mencapai 8 persen, kontribusi Foreign Direct Investment (FDI) memang diperlukan.

Namun ia optimistis investor global akan datang secara alami ketika ekonomi domestik sudah menunjukkan stabilitas dan momentum pertumbuhan.

Investasi SDM adalah Kunci Produktivitas Jangka Panjang

Selain likuiditas dan investasi, Purbaya menekankan pentingnya sumber daya manusia (SDM), khususnya di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Ia mengakui Indonesia masih tertinggal dibandingkan Tiongkok dan India dalam jumlah lulusan STEM.

“Kalau kita mau naik kelas, SDM-nya harus siap. Tanpa itu, produktivitas sulit melonjak,” ujarnya.

Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, pemerintah menyiapkan program Sekolah Rakyat Terintegrasi, gagasan langsung Presiden Prabowo.

Program ini akan dimulai dengan 40 sekolah percontohan dengan anggaran sekitar Rp12 triliun, dan ditargetkan berkembang hingga 7.000 sekolah di seluruh Indonesia.

Tujuannya jelas: membuka akses pendidikan berkualitas, mempersempit kesenjangan, dan mencetak tenaga kerja unggul yang mampu bersaing secara global.

Purbaya juga menyoroti persoalan klasik investasi di Indonesia, yakni hambatan birokrasi di tingkat implementasi. Berdasarkan pengalamannya, banyak investor tertarik masuk, namun mundur karena kendala teknis di lapangan.

“Masalahnya bukan di aturan, tapi di perilaku,” katanya.

Untuk itu, pemerintah mengaktifkan kembali Satgas Debottlenecking, yang akan menyidangkan hambatan investasi secara rutin setiap minggu. Ia bahkan menegaskan komitmen lintas kementerian dengan ancaman sanksi fiskal.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Longgarkan Pinjaman PEN Daerah, Sejauh Mana Dukungan Fiskal untuk Pemulihan Sumatra?

“Kalau tidak mau kerja, saya potong anggarannya. Tidak dikirim saja duitnya,” ujar Purbaya tegas.

Langkah ini diharapkan menciptakan kepastian usaha, mempercepat realisasi investasi, dan meningkatkan kepercayaan pelaku ekonomi.

Optimisme Ekonomi Nasional: “Kita Kaya Bersama”

Menutup perbincangan, Purbaya mengajak publik untuk tidak pesimistis menghadapi masa depan. Dengan pengalaman melewati krisis Asia, krisis global, hingga pandemi, Indonesia dinilai memiliki ketahanan yang kuat.

“Masa depan kita di tangan kita sendiri. Kita yang menentukan mau jadi kaya atau miskin. Target 8 persen itu tinggi, tapi bukan mustahil,” pungkasnya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa optimisme, disiplin kebijakan, dan kerja kolektif menjadi fondasi menuju pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.


Berita Terkait


News Update