POSKOTA.CO.ID - Kabar mengejutkan datang dari Teheran. Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, dilaporkan gugur pada Sabtu, 28 Februari 2026 pagi waktu setempat dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Televisi nasional Iran menyebut Khamenei tewas akibat hantaman rudal yang menghantam kantornya di ibu kota. Serangan tersebut juga memicu kerusakan infrastruktur serta korban sipil.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Situasi geopolitik pun memanas dan memicu kekhawatiran eskalasi konflik regional.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menyatakan Majelis Ahli akan segera menggelar sidang sesuai Pasal 111 Konstitusi Iran untuk memilih pemimpin tertinggi baru. Ia menegaskan Iran tidak menargetkan negara tetangga, melainkan pangkalan militer AS.
Baca Juga: Mengapa Selat Hormuz Begitu Penting? Ini Pengaruhnya bagi Pasar Energi Dunia dan Asia
Biodata dan Profil Ali Khamenei

- Nama Lengkap: Ali Hosseini Khamenei
- Agama: Syiah Dua Belas Imam
- Lahir: 19 April 1939, Mashhad, Iran
- Wafat: 28 Februari 2026, Teheran, Iran
- Kebangsaan: Iran
- Orang Tua: Javad Khamenei dan Khadijeh Mirdamadi
- Jabatan: Pemimpin Tertinggi Iran (1989–2026), Presiden Iran (1981–1989)
- Masa Jabatan sebagai Pemimpin Tertinggi: 36 tahun 6 bulan
- Status: Menikah, 4 putra dan 2 putri
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Lahir di Mashhad dari keluarga ulama, Khamenei tumbuh dalam lingkungan religius yang kuat. Ayahnya adalah seorang mujtahid kelahiran Najaf, Irak.
Sejak usia empat tahun, ia telah mempelajari Al-Qur’an di maktab. Pendidikan agamanya berlanjut di seminari (hawza) Mashhad sebelum pindah ke Qom pada 1958.
Di sana, ia belajar di bawah bimbingan tokoh besar seperti Ruhollah Khomeini dan Seyyed Hossein Borujerdi, yang kelak berperan penting dalam Revolusi Iran.
Peran dalam Revolusi Iran
Khamenei dikenal sebagai oposisi vokal terhadap rezim Mohammad Reza Pahlavi. Ia beberapa kali ditangkap dan sempat diasingkan selama tiga tahun.
Dalam Revolusi Iran 1978–1979, ia menjadi salah satu figur kunci sekaligus orang dekat Khomeini.
