Tawuran Manggarai Tak Pernah Usai, Pengamat Ungkap Akar Masalahnya

Senin 05 Jan 2026, 21:36 WIB
Pasukan Brimob Polda Metro Jaya menggelar patroli dan kegiatan pengamanan untuk mengantisipasi potensi tawuran warga di wilayah Cipinang Besar Selatan, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu, 4 Januari 2026. (Sumber: Dok. Polda Metro Jaya)

Pasukan Brimob Polda Metro Jaya menggelar patroli dan kegiatan pengamanan untuk mengantisipasi potensi tawuran warga di wilayah Cipinang Besar Selatan, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu, 4 Januari 2026. (Sumber: Dok. Polda Metro Jaya)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID – Pengamat sosial Universitas Indonesia, Rissalwan Habdy Lubis, menilai maraknya tawuran yang kembali terjadi di kawasan Manggarai dan sekitarnya merupakan persoalan sosial lama yang belum pernah terselesaikan secara tuntas.

Menurut Rissalwan, berbagai program yang diluncurkan pemerintah daerah, termasuk Manggarai Bersholawat, merupakan langkah positif, namun belum menyentuh akar persoalan.

"Ini satu hal yang memang memprihatinkan ya. Padahal tahun lalu itu Pak Gubernur sudah meluncurkan program Manggarai Bersholawat ya. Manggarai Bersholawat itu ya salah satu cara saja, tapi itu tidak mengatasi akar masalah," ucap Rissalwan kepada Poskota, Senin, 5 Januari 2026.

Baca Juga: Kriminolog Nilai Tawuran Manggarai Berpotensi Jadi Pengalihan Peredaran Narkoba

Ia menegaskan, tawuran di Manggarai bukan fenomena baru. Konflik antarkelompok di wilayah tersebut telah berlangsung sejak dekade 1970-an dan terus berulang lintas generasi.

"Tawuran ini kan sudah cerita lama ya, sudah dari tahun 70-an, jadi sudah berdekade-dekade ya, sudah hampir 50 tahun, sudah 40 tahun begitu permasalahan ini muncul terus," ujar Rissalwan.

Rissalwan menjelaskan, salah satu akar persoalan tawuran adalah kebencian yang diwariskan secara tidak sadar dari orang tua kepada anak-anak sejak dini, sehingga membentuk pola pikir negatif terhadap kelompok atau kampung lain.

"Menurut saya, kalau mau mengobati akarnya, ya generasi mudanya itu diarahkan ke kegiatan-kegiatan yang menyalurkan energi mereka ya, energi anak muda itu," kata Rissalwan.

Baca Juga: Mengapa Tawuran Terus Terjadi di Terowongan Manggarai

Ia menilai, energi besar anak muda yang tidak tersalurkan dengan baik berpotensi meledak dalam bentuk konflik sosial.

"(Menyelenggarakan) Ya, kompetisi, tapi kompetisi yang jangan sampai malah memicu tawuran ya. Kalau kita buat lomba voli, lomba futsal, mungkin bisa malah bikin tawuran tuh kalau ada kecurangan dan lain-lain," ungkapnya.


Berita Terkait


News Update