KEBAYORAN BARU, POSKOTA.CO.ID - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Republik Indonesia, menyoroti rawannya anak-anak terpapar terorisme dan ideologi ekstremis. Berdasarkan catatan Densus 88 sudah ada sekitar 100 anak direkrut jaringan teroris sepanjang 2025.
Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA, Ratna Susianawati, menegaskan pentingnya peran keluarga dalam mencegah anak terpapar paham radikal maupun jaringan terorisme.
Terutama, di tengah keterbukaan teknologi dan derasnya arus informasi digital. Banyak kasus, orang tua sering terlambat menyadari perubahan perilaku anak hingga akhirnya mengetahui bahwa anak telah terafiliasi dengan kelompok yang mengarah pada radikalisasi.
“Peran keluarga itu menjadi sangat penting. Saat ini orang tua dengan keterbukaan teknologi dan informasi harus dituntut untuk melek media. Seringkali orang tua ketinggalan, baru menyadari ketika kasus sudah terjadi,” ujar Ratna, saat konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Selasa, 18 November 2025.
Baca Juga: Jaringan Terorisme Rekrut Anak lewat Media Sosial dan Game Online
Ratna juga menjelaskan, perubahan perilaku anak yang mengarah pada radikalisme sering tidak terdeteksi sejak awal. Hal itu bisa terjadi karena rendahnya sensitivitas lingkungan keluarga. Karena itu, pihaknya terus mendorong penguatan kapasitas keluarga melalui berbagai program.
“Literasi digital menjadi penting supaya orang tua paham gejala-gejala perilaku yang sudah mengarah kepada terorisme,” kata Ratna.
Kemudian sebagai langkah pencegahan, kata Ratna, saat ini pihaknya tengah mengembangkan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), yang di dalamnya mencakup peningkatan literasi digital untuk orang tua. Dengan adanya Puspaga diharapkan agar orang tua mampu mengenali gejala dan perilaku yang berpotensi mengarah pada terorisme.
Selain penguatan keluarga, KemenPPPA juga mengoptimalkan peran anak sebagai agen positif melalui wadah partisipasi seperti Forum Anak dan Generasi Berencana (GenRe). Kedua kelompok ini dinilai dapat menjadi kekuatan tambahan dalam kampanye pencegahan radikalisasi karena anak cenderung lebih percaya pada teman sebaya.
Baca Juga: Densus 88 Tangkap 5 Tersangka Perekrut Anak untuk Jaringan Terorisme Sepanjang 2025
“Anak seringkali lebih percaya pada peer group-nya, pada teman-temannya. Karena itu Forum Anak dan GenRe menjadi kekuatan untuk kampanye pencegahan yang kita lakukan bersama seluruh kementerian dan lembaga,” ucap Ratna.
