POSKOTA.CO.ID - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Viada Hafid menanggapi pernyataan mantan anggota Parlemen Singapura, Calvin Cheng Ern Lee, yang menyinggung kemungkinan pemutusan kabel internet yang menghubungkan Indonesia dengan jaringan internasional.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian setelah muncul informasi bahwa sekitar 90 persen lalu lintas internet internasional Indonesia melewati Singapura. Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai ketergantungan infrastruktur digital Indonesia terhadap negara tetangga tersebut.
Namun, Meutya mengingatkan bahwa konektivitas internet kedua negara tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Menurutnya, jaringan kabel bawah laut yang menghubungkan Indonesia dengan jaringan global juga melintasi perairan Indonesia.
"Kita tidak perlu geram. Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang mendarat di Singapura, tidak sampai dengan tiba-tiba. Sebagian besar jalurnya melalui perairan Indonesia," kata Meutya di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Baca Juga: Telin Dorong Kedaulatan Teknologi dan Investasi Digital Indonesia di Bali Tech Week 2026
Meutya Sebut Singapura Juga Berpotensi Terdampak
Meutya menilai, pemutusan kabel komunikasi bawah laut tidak hanya berisiko mengganggu konektivitas Indonesia. Infrastruktur tersebut juga menopang komunikasi digital lintas negara, sehingga gangguan dapat menimbulkan dampak terhadap pihak lain yang menggunakan jaringan serupa.
Ia bahkan menyebut kapasitas konektivitas Singapura berpotensi mengalami gangguan besar jika kabel yang dimaksud terputus.
"Jika terpotong atau dipotong, 80 persen kapasitas konektivitas Singapura juga terancam lumpuh," ujar Meutya.
Selain faktor infrastruktur, Meutya menyoroti besarnya pasar digital Indonesia. Jumlah penduduk dan pengguna internet Indonesia dinilai menjadi pertimbangan penting bagi perusahaan teknologi global dalam menentukan investasi dan pengembangan bisnis di kawasan Asia Tenggara.
Menurutnya, hubungan konektivitas kedua negara perlu dipahami sebagai bagian dari ekosistem digital yang saling berkaitan.
Meutya Ingatkan Pentingnya Menjaga Infrastruktur Digital
Meutya juga mengingatkan para politikus agar berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan mengenai infrastruktur komunikasi lintas negara. Menurutnya, ancaman terhadap jaringan digital dapat membawa konsekuensi yang lebih luas daripada sekadar perselisihan politik.
"Kita tidak boleh berpikir kerdil. Infrastruktur digital adalah sektor yang perlu dijaga bersama, tidak hanya untuk kepentingan kedua negara tapi juga untuk konektivitas global," jelasnya.
Infrastruktur kabel bawah laut memang menjadi salah satu tulang punggung komunikasi modern. Jaringan ini membawa sebagian besar pertukaran data internasional dan mendukung layanan internet, komunikasi bisnis, hingga berbagai layanan digital.
Karena itu, gangguan pada kabel bawah laut dapat memengaruhi banyak pihak, bergantung pada lokasi kerusakan, kapasitas jaringan yang terdampak, serta ketersediaan jalur alternatif.
Awal Mula Pernyataan Calvin Cheng
Sebelumnya, Calvin Cheng mengunggah infografis mengenai ketergantungan lalu lintas internet internasional Indonesia terhadap Singapura melalui akun X miliknya, @calvinelcheng. Dalam unggahan tersebut, ia menyinggung kemungkinan pemotongan kabel dengan menulis, "Potong?"
Pernyataan itu kemudian memancing respons warganet Indonesia. Cheng selanjutnya menegaskan bahwa Singapura tidak akan melakukan tindakan tersebut.
"Kami adalah orang-orang yang beradab dan taat hukum. Jelas kami tidak akan melakukan ini (memutus jaringan internet Indonesia)," tulis Cheng.
Pernyataan tersebut memperjelas bahwa unggahan awalnya tidak otomatis berarti adanya keputusan resmi Singapura untuk memutus jaringan internet Indonesia.
Baca Juga: Daftar Rute Transjakarta yang Terdampak Demo Hari Ini 28 Oktober 2026, Cek Jalurnya
Ketergantungan Digital Perlu Dilihat dari Banyak Sisi
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa konektivitas internet internasional bergantung pada jaringan lintas negara yang kompleks. Ketergantungan terhadap jalur tertentu memang perlu diperhatikan, tetapi dampak gangguan harus dinilai berdasarkan kondisi teknis dan jalur alternatif yang tersedia.
Bagi Indonesia, penguatan infrastruktur kabel bawah laut, diversifikasi jalur konektivitas, dan kerja sama regional menjadi bagian penting untuk menjaga ketahanan jaringan digital dalam jangka panjang.
