"Kita tidak boleh berpikir kerdil. Infrastruktur digital adalah sektor yang perlu dijaga bersama, tidak hanya untuk kepentingan kedua negara tapi juga untuk konektivitas global," jelasnya.
Infrastruktur kabel bawah laut memang menjadi salah satu tulang punggung komunikasi modern. Jaringan ini membawa sebagian besar pertukaran data internasional dan mendukung layanan internet, komunikasi bisnis, hingga berbagai layanan digital.
Karena itu, gangguan pada kabel bawah laut dapat memengaruhi banyak pihak, bergantung pada lokasi kerusakan, kapasitas jaringan yang terdampak, serta ketersediaan jalur alternatif.
Awal Mula Pernyataan Calvin Cheng
Sebelumnya, Calvin Cheng mengunggah infografis mengenai ketergantungan lalu lintas internet internasional Indonesia terhadap Singapura melalui akun X miliknya, @calvinelcheng. Dalam unggahan tersebut, ia menyinggung kemungkinan pemotongan kabel dengan menulis, "Potong?"
Pernyataan itu kemudian memancing respons warganet Indonesia. Cheng selanjutnya menegaskan bahwa Singapura tidak akan melakukan tindakan tersebut.
"Kami adalah orang-orang yang beradab dan taat hukum. Jelas kami tidak akan melakukan ini (memutus jaringan internet Indonesia)," tulis Cheng.
Pernyataan tersebut memperjelas bahwa unggahan awalnya tidak otomatis berarti adanya keputusan resmi Singapura untuk memutus jaringan internet Indonesia.
Baca Juga: Daftar Rute Transjakarta yang Terdampak Demo Hari Ini 28 Oktober 2026, Cek Jalurnya
Ketergantungan Digital Perlu Dilihat dari Banyak Sisi
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa konektivitas internet internasional bergantung pada jaringan lintas negara yang kompleks. Ketergantungan terhadap jalur tertentu memang perlu diperhatikan, tetapi dampak gangguan harus dinilai berdasarkan kondisi teknis dan jalur alternatif yang tersedia.
Bagi Indonesia, penguatan infrastruktur kabel bawah laut, diversifikasi jalur konektivitas, dan kerja sama regional menjadi bagian penting untuk menjaga ketahanan jaringan digital dalam jangka panjang.
