KALIDERES, POSKOTA.CO.ID - Krisis air bersih melanda pemukiman warga Jakarta Barat. Aliran air keran yang tak menentu hingga mati total tak hanya melumpuhkan aktivitas harian seperti mandi dan mencuci, tetapi juga membuat pengeluaran rumah tangga membengkak.
Yuni, 32 tahun, warga Pegadungan, Kalideres, menyebut aliran air PAM di rumahnya sudah bermasalah selama lebih dari satu bulan.
Dalam sehari, air kadang hanya mengalir selama dua jam pada pagi buta. Untuk memenuhi kebutuhan harian, ia terpaksa membeli air dari warga setempat yang memiliki sumur bor.
"Sehari bisa keluar uang sampai Rp25.000 hanya untuk beli dua gerobak air bersih," tutur Yuni kepada Pos Kota, Sabtu, 19 September 2026.
Baca Juga: Ungkap Masalah Air Keruh dan Bau, PAM Jaya Pastikan Penanganan Langsung ke Warga Terdampak
Kondisi serupa dialami Fuad Hasani, 37 tahun, warga Cengkareng Barat. Aliran air PAM di rumahnya bahkan mati total sejak Kamis, 17 September 2026.
Sebelum mati total, air sempat mengalir tengah malam namun mengeluarkan bau tak sedap pascasubuh.
"Urusan mandi dan cuci itu penting. Saya sampai sering menumpang mandi di tempat kerja, sedangkan keluarga menumpang di rumah saudara di Daan Mogot," ujar pria yang bekerja sebagai barista di kawasan Blok M tersebut.
Untuk kebutuhan harian, Fuad rutin membeli air pikul seharga Rp8.000 per pasang jeriken, sementara untuk konsumsi minum ia mengandalkan air galon isi ulang.
Baca Juga: Sempat Terganggu Sebulan, Warga Jembatan Besi Jakbar Kembali Dapat Air Bersih PAM Jaya
"Harusnya kalau pelayanan begini terus, warga tidak usah bayar," keluhnya.
Intrusi Air Laut dan Salinitas Tinggi
Menanggapi keluhan warga, Direktur Teknik PAM Jaya Akhmad Santika menjelaskan bahwa gangguan distribusi disebabkan oleh penurunan kualitas air baku di IPA Hutan Kota, Jakarta Barat.
Fenomena kemarau panjang dan El Nino membuat debit Kali Angke menyusut drastis sehingga memicu intrusi air laut.
Akibatnya, kadar Total Dissolved Solids (TDS) atau kandungan zat terlarut pada air baku melonjak hingga 10.000 ppm. Angka ini jauh melampaui batas aman Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 yang menetapkan standar air bersih maksimal 300 ppm.
Baca Juga: Bantu Warga Simpan Air, PAM JAYA dan TP PKK DKI Distribusikan 1.000 Toren
Atas dasar keselamatan konsumen, PAM Jaya meminta pengelola menghentikan sementara operasional IPA Hutan Kota sejak 15 September 2026.
"Langkah ini kami ambil karena kualitas air baku dinilai sudah tidak aman untuk diolah menjadi air bersih bagi pelanggan," jelas Akhmad.
Penghentian operasional IPA Hutan Kota berdampak pada pelanggan di 10 kelurahan, meliputi Cengkareng Barat, Cengkareng Timur, Kalideres, Kamal, Kamal Muara, Kapuk Muara, Muara Karang, Pegadungan, Pluit, Duri Kosambi, Rawa Buaya, dan Tegal Alur.
Sebagai langkah penanganan, PAM Jaya mengalihkan pasokan air baku dari instalasi lain dengan skema realokasi maksimal 2x24 jam sejak 18 September 2026. Selain itu, PAM Jaya menyiapkan kompensasi, antara lain:
Kompensasi sebesar 10 persen dari nilai tagihan (minimal Rp10.000, maksimal Rp50.000) diberikan otomatis pada bulan berikutnya untuk pelanggan kelas Rumah Tangga Sangat Sederhana (2A1) dan Rumah Tangga Sederhana (2A2). Total anggaran kompensasi mencapai Rp555 juta untuk 44.872 pelanggan.
Sebanyak 72 unit mobil tangki air disiagakan ke wilayah terdampak. Warga yang membutuhkan bantuan air bersih dapat menghubungi call center PAM Jaya di nomor 1500223 (layanan 24 jam).
VP Commercial dan Marketing Strategy PAM Jaya, Irene Putri, menegaskan bahwa secara umum pasokan air bersih DKI Jakarta masih dalam kondisi aman karena mayoritas air baku ditopang oleh Waduk Jatiluhur.
Kondisi ini diharapkan tetap terjaga demi memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat secara berkelanjutan.
“Kita bisa lihat secara real-time berapa jumlah air yang kami distribusikan air ke seluruh DKI Jakarta,” terang Irene.
