JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - PT PAM Jaya (Perseroda) menargetkan tingkat Non-Revenue Water (NRW) atau kehilangan air turun drastis menjadi 9 persen pada 2029. Target tersebut menjadi salah sebuah bagian penting dari transformasi layanan air minum perpipaan di Jakarta.
Langkah penurunan NRW dilakukan seiring target PAM Jaya memperluas cakupan layanan air perpipaan hingga 100 persen pada 2029. Perusahaan mempercepat pembenahan jaringan melalui penanganan kebocoran pipa, rehabilitasi jaringan distribusi, pembentukan District Metered Area (DMA), penggantian meter pelanggan, hingga digitalisasi sistem pemantauan jaringan.
Berdasarkan data Jakarta Investment Centre, tingkat NRW PAM Jaya pada 2024 masih mencapai 46,2 persen. Pada periode yang sama, cakupan layanan air perpipaan baru mencapai 69,53 persen.
Kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus diselesaikan PAM Jaya untuk memastikan air yang diproduksi dapat tersalurkan secara optimal kepada masyarakat.
Baca Juga: PAM Jaya Berduka atas Tewasnya Tiga Pekerja Proyek Air Bersih, PT Moya Diinvestigasi
Melalui berbagai program revitalisasi jaringan, PAM Jaya menargetkan NRW dapat ditekan hingga 9 persen pada 2029. Penurunan kehilangan air diharapkan meningkatkan efisiensi operasional sekaligus membuka ruang bagi perluasan sambungan pelanggan baru.
Selain kebocoran jaringan, PAM Jaya juga membidik kehilangan air yang disebabkan penggunaan ilegal. Penguatan sistem pemantauan dan digitalisasi jaringan menjadi bagian dari strategi untuk mengetahui kondisi distribusi secara lebih cepat dan akurat.
Hingga Juni 2025, PAM Jaya telah melayani 1.184.086 pelanggan standar, 11.927 pelanggan korporasi, serta 401.820 pelanggan dalam kategori zero and low customer.
Peneliti Jakarta Public Service (JPS), Rahmat Hidayat menilai langkah transformasi yang dilakukan PAM Jaya menunjukkan keseriusan perusahaan dalam membangun sistem pelayanan air minum yang lebih modern dan profesional.
"Upaya yang dilakukan PAM Jaya patut diapresiasi. Kita melihat bagaimana perusahaan ini tidak hanya fokus memperluas jaringan perpipaan, tetapi juga serius membenahi persoalan mendasar seperti kebocoran jaringan yang selama bertahun-tahun menjadi tantangan besar," kata Rahmat, Jumat, 7 Agustus 2026.
Menurutnya, percepatan penanganan kebocoran menjadi langkah penting untuk menekan NRW. Dengan demikian, air yang diproduksi perusahaan dapat lebih banyak diterima dan dimanfaatkan masyarakat.
