JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Ratusan karyawan Club de Arjuna (PT Arjuna Prabadwipa Amarta) berdiri bersama di depan gedung Arjuna Hyperbowling, Jalan Raya Kedoya, Jakarta Barat, Kamis, 17 September 2026. Mereka membawa poster dan spanduk yang berisi kegelisahan mereka.
Di tengah kerumunan itu, suara para pekerja terdengar lantang. Bukan sekadar menyampaikan protes, mereka datang membawa keresahan tentang nasib pekerjaan dan keluarga yang selama ini bergantung pada penghasilan dari tempat tersebut.
“Kami perlu makan, jangan tutup tempat kerja kami,” demikian salah satu tulisan yang terpampang dalam aksi tersebut.
Poster-poster lain menyuarakan kegelisahan yang tak kalah tajam. “Di Mana Keadilan Kalau Semua Orang Bisa Segel Tempat Kerja Kami?”, “Tempat Kerja Kami Ditutup, Siapa yang Menampung Kami?”, “Anak Kami Perlu Makan”, “Anak Kami Perlu Sekolah”, “Ke Mana Kami Harus Mengadu?” hingga “Kami Ini Korban”.
Baca Juga: Apakah Ada Demo di Jakarta Hari Ini 14 September 2026? Simak Pengaturan Lalu Lintas Kepolisian
Puluhan poster dan spanduk itu menjadi gambaran keresahan para pekerja yang merasa kehilangan tempat untuk menggantungkan hidup.
Aksi penyampaian pendapat tersebut berlangsung secara damai dan tertib. Aparat kepolisian setempat tampak berjaga di sekitar lokasi, terutama di area gerbang utama fasilitas, untuk memastikan kegiatan berlangsung aman dan kondusif.
Aksi tersebut dipicu penutupan atau penyegelan area operasional Club de Arjuna. Persoalan tersebut kemudian berdampak langsung kepada para pekerja. Aktivitas operasional terhenti sehingga ratusan karyawan praktis tidak dapat bekerja dan kehilangan sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Bagi para pekerja, berhentinya aktivitas di tempat tersebut bukan sekadar soal tidak bisa masuk kerja. Di balik pintu tempat usaha yang tertutup, terdapat kebutuhan rumah tangga yang tetap berjalan, biaya sekolah anak yang harus dibayar, serta kebutuhan sehari-hari yang tidak ikut berhenti.
Baca Juga: Ratusan Mahasiswa UIN Jakarta Demo, Desak Dugaan Korupsi Mantan Rektor Diusut Tuntas
Manajemen PT Arjuna Prabadwipa Amarta menyatakan memahami aksi yang dilakukan para pekerja. Perusahaan menyebut penyampaian aspirasi tersebut merupakan bentuk suara hati karyawan yang terdampak langsung oleh persoalan sengketa.
General Manager PT Arjuna Prabadwipa Amarta, Irwan Hadianto menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi yang dialami para pekerja beserta keluarga mereka.
“Kami membenarkan bahwa pada hari ini telah berlangsung aksi massa yang dilakukan secara damai di area Club de Arjuna untuk menyuarakan aspirasi dan kegelisahan karyawan. Kami dari pihak manajemen sangat memahami beban berat yang kini dipikul oleh mereka beserta keluarganya,” kata Irwan.
Menurutnya, manajemen terus berupaya agar persoalan hukum yang sedang berjalan dapat segera menemukan penyelesaian.
“Saat ini, kami terus berupaya maksimal dan berdoa agar proses hukum yang sedang bergulir terkait Club de Arjuna dapat berjalan dengan cepat dan menghasilkan keputusan yang baik,” katanya.
Irwan berharap tempat usaha tersebut dapat kembali beroperasi sehingga para pekerja bisa kembali mendapatkan penghasilan.
Baca Juga: Polda Metro Terbitkan LP Model A untuk Usut Kematian Warga Pejompongan saat Kerusuhan Demo
“Harapan dan tujuan utama kami satu, yaitu agar tempat ini bisa beroperasi kembali sehingga karyawan-karyawan kami dapat segera bekerja lagi,” tegasnya.
Bagi para karyawan, tuntutan yang disampaikan melalui aksi tersebut terbilang sederhana. Mereka ingin kembali bekerja dan memperoleh penghasilan untuk menghidupi keluarga.
Sementara itu, sengketa lahan dan proses hukum yang menyertainya boleh jadi merupakan persoalan antara sejumlah pihak. Namun, dampaknya kini terasa hingga ke meja makan keluarga para pekerja.
Tempat kerja bagi ratusan karyawan Club de Arjuna bukan hanya sebuah gedung tempat mencari nafkah. Di sanalah penghasilan diperoleh, kebutuhan keluarga dipenuhi, dan masa depan anak-anak mereka diperjuangkan.
Baca Juga: Polda Metro Bantah Libatkan Ormas Amankan Kerusuhan Demo di DPR
Di balik poster bertuliskan “Kami Ini Korban”, terselip harapan agar persoalan yang terjadi segera berakhir. Mereka ingin kembali mengenakan seragam kerja, membuka pintu tempat kerja, dan menjalani rutinitas seperti sebelumnya.
