Gaji Terhenti Buntut Kasus Sengketa Lahan, Ratusan Karyawan Unjuk Rasa di Depan Club de Arjuna

Jumat 18 Sep 2026, 17:29 WIB
Ratusan karyawan PT Arjuna Prabadwipa Amarta saat melakukan unjuk rasa di depan gedung Arjuna Hyperbowling, Jalan Raya Kedoya, Jakarta Barat, Kamis, 17 September 2026. (Sumber: Dok. Istimewa)
Ratusan karyawan PT Arjuna Prabadwipa Amarta saat melakukan unjuk rasa di depan gedung Arjuna Hyperbowling, Jalan Raya Kedoya, Jakarta Barat, Kamis, 17 September 2026. (Sumber: Dok. Istimewa)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Ratusan karyawan Club de Arjuna (PT Arjuna Prabadwipa Amarta) berdiri bersama di depan gedung Arjuna Hyperbowling, Jalan Raya Kedoya, Jakarta Barat, Kamis, 17 September 2026. Mereka membawa poster dan spanduk yang berisi kegelisahan mereka.

Di tengah kerumunan itu, suara para pekerja terdengar lantang. Bukan sekadar menyampaikan protes, mereka datang membawa keresahan tentang nasib pekerjaan dan keluarga yang selama ini bergantung pada penghasilan dari tempat tersebut.

“Kami perlu makan, jangan tutup tempat kerja kami,” demikian salah satu tulisan yang terpampang dalam aksi tersebut.

Poster-poster lain menyuarakan kegelisahan yang tak kalah tajam. “Di Mana Keadilan Kalau Semua Orang Bisa Segel Tempat Kerja Kami?”, “Tempat Kerja Kami Ditutup, Siapa yang Menampung Kami?”, “Anak Kami Perlu Makan”, “Anak Kami Perlu Sekolah”, “Ke Mana Kami Harus Mengadu?” hingga “Kami Ini Korban”.

Baca Juga: Apakah Ada Demo di Jakarta Hari Ini 14 September 2026? Simak Pengaturan Lalu Lintas Kepolisian

Puluhan poster dan spanduk itu menjadi gambaran keresahan para pekerja yang merasa kehilangan tempat untuk menggantungkan hidup.

Aksi penyampaian pendapat tersebut berlangsung secara damai dan tertib. Aparat kepolisian setempat tampak berjaga di sekitar lokasi, terutama di area gerbang utama fasilitas, untuk memastikan kegiatan berlangsung aman dan kondusif.

Aksi tersebut dipicu penutupan atau penyegelan area operasional Club de Arjuna. Persoalan tersebut kemudian berdampak langsung kepada para pekerja. Aktivitas operasional terhenti sehingga ratusan karyawan praktis tidak dapat bekerja dan kehilangan sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Bagi para pekerja, berhentinya aktivitas di tempat tersebut bukan sekadar soal tidak bisa masuk kerja. Di balik pintu tempat usaha yang tertutup, terdapat kebutuhan rumah tangga yang tetap berjalan, biaya sekolah anak yang harus dibayar, serta kebutuhan sehari-hari yang tidak ikut berhenti.

Baca Juga: Ratusan Mahasiswa UIN Jakarta Demo, Desak Dugaan Korupsi Mantan Rektor Diusut Tuntas

Manajemen PT Arjuna Prabadwipa Amarta menyatakan memahami aksi yang dilakukan para pekerja. Perusahaan menyebut penyampaian aspirasi tersebut merupakan bentuk suara hati karyawan yang terdampak langsung oleh persoalan sengketa.


Berita Terkait


News Update