POSKOTA.CO.ID - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyoroti temuan terkait peredaran beras fortifikasi yang diduga tidak sesuai dengan klaim pada kemasan.
Dalam paparannya, Amran menyebut terdapat 27 merek beras fortifikasi yang diperiksa.
Dari jumlah tersebut, 25 merek dinyatakan tidak memenuhi syarat, sedangkan dua merek lainnya disebut memenuhi ketentuan.
"Ada 25 (merek beras fortifikasi palsu)," kata Amran dalam konferensi pers pada Selasa, 15 September 2026.
Ketidaksesuaian yang ditemukan berkaitan dengan kandungan gizi dalam produk yang disebut tidak sesuai dengan klaim yang tercantum pada kemasan.
Pemerintah pun menilai ketidaksesuaian antara klaim kandungan gizi dan hasil pemeriksaan perlu menjadi perhatian.
Pasalnya, konsumen membeli produk berdasarkan informasi yang tercantum pada kemasan, termasuk ketika sebuah produk menawarkan tambahan vitamin dan mineral.
Lantas, perbedaan beras fortifikasi dan beras biasa apa? Simak informasi selengkapnya berikut ini.
Baca Juga: Impor Udang Tekan Petambak, Pemerintah Diminta Bertindak Tegas
Apa Itu Beras Fortifikasi?
Beras fortifikasi merupakan beras yang mendapatkan tambahan zat gizi mikro melalui proses tertentu.
Salah satu metode yang digunakan adalah mencampurkan beras dengan butiran khusus atau fortified kernels yang telah mengandung vitamin dan mineral.
Butiran tersebut kemudian dicampurkan dengan beras sehingga kandungan zat gizi mikro dalam produk menjadi lebih tinggi dibandingkan beras yang tidak mendapatkan fortifikasi.
Fortifikasi pada pangan umumnya dilakukan untuk membantu meningkatkan asupan zat gizi tertentu dalam masyarakat.
Zat gizi yang ditambahkan dapat berupa zat besi, seng, asam folat, vitamin A, maupun sejumlah vitamin B, tergantung pada jenis produk dan ketentuan fortifikasi yang diterapkan.
Dengan demikian, istilah beras fortifikasi tidak sekadar merujuk pada merek atau jenis beras tertentu.
Istilah tersebut berkaitan dengan adanya proses penambahan zat gizi pada produk.
Baca Juga: OTT Pejabat ATR/BPN, Pengamat Desak KPK Periksa Menteri Nusron Wahid
Daftar Beras Fortifikasi
Berikut daftar 25 merek yang disebut pemerintah berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium:
- Idola Fortifikasi
- Idola High Quality Whole Grain Rice
- Idola Long Grain Rice
- Ikan Mas Cupang
- AAA Wijaya Kusuma
- Cantik Manis
- Penari Bangkok
- Topi Koki Short Grain
- Topi Koki Setra Royale
- Topi Koki Long Grain
- Crystal HOK-1
- Gohan
- Maknyuss Pulen Gizi
- Anak Raja Fortifikasi
- Anak Raja Nusantara
- Top Anak Raja
- PMS
- Induk Ayam
- Sumo
- Rasvit FS
- Nutri Rice
- Pelikan Rice
- Rojolele Super Kepala
- Beras Premium 111
- 111 Golden Number
- Putri Koki
- Wellfarm Beras Diabet
Perbedaan Beras Fortifikasi dan Beras Biasa Apa?
Berikut adalah beberapa aspek yang membedakan beras fortifikasi dan beras biasa.
1. Kandungan Gizi
Beras fortifikasi diperkaya dengan zat gizi mikro tertentu. Kandungan yang dapat ditambahkan antara lain zat besi, seng atau zinc, asam folat, vitamin A, serta vitamin B kompleks seperti B1, B3, B6 dan B12.
Penambahan zat gizi tersebut dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan mikronutrien masyarakat.
Sementara itu, beras biasa tidak mendapatkan tambahan vitamin dan mineral melalui proses fortifikasi.
Kandungan nutrisinya berasal dari beras itu sendiri dan dapat dipengaruhi oleh jenis beras serta proses penggilingan.
2. Tampilan Fisik
Salah satu perbedaan yang mungkin terlihat pada beras fortifikasi adalah adanya butiran khusus atau kernel yang dicampurkan dengan beras.
Kernel fortifikasi dapat memiliki tampilan yang sedikit berbeda dari butiran beras pada umumnya.
Namun, ciri fisik saja tidak dapat menjadi satu-satunya dasar untuk memastikan suatu produk benar-benar telah difortifikasi sesuai ketentuan.
Pada beras biasa, butiran cenderung memiliki tampilan yang lebih seragam sesuai dengan jenis dan proses pengolahannya.
Karena itu, konsumen tetap perlu memperhatikan informasi pada kemasan dan ketentuan produk, bukan hanya mengandalkan tampilan fisik beras.
3. Rasa, Aroma, dan Tekstur
Beras yang telah difortifikasi dirancang agar tambahan zat gizi tidak secara signifikan mengubah karakteristik nasi setelah dimasak.
Dengan demikian, proses fortifikasi pada produk yang sesuai ketentuan diharapkan tidak mengubah rasa, aroma, warna, maupun tekstur nasi secara mencolok.
Sementara itu, beras biasa memiliki karakteristik rasa dan aroma yang dipengaruhi jenis beras, kualitas, proses penggilingan, serta cara memasaknya.
Perbedaan karakteristik setelah dimasak juga dapat dipengaruhi oleh varietas beras dan kualitas produk, sehingga tidak selalu dapat digunakan sebagai penentu apakah beras telah difortifikasi atau belum.
4. Harga
Dari sisi harga, beras fortifikasi dapat memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan beras biasa karena terdapat proses tambahan dalam produksinya.
Proses tersebut meliputi penyediaan zat gizi mikro, pembuatan atau pencampuran kernel fortifikasi, pengawasan kualitas, hingga proses produksi dan distribusi.
Namun, harga beras di pasaran juga dipengaruhi berbagai faktor lain, termasuk jenis beras, kualitas, merek, kemasan, distribusi dan kondisi pasar.
Dalam kasus yang disoroti Mentan Amran, perhatian tertuju pada harga beras fortifikasi yang disebut mencapai Rp57.000 per kilogram.
Angka tersebut kemudian dibandingkan dengan perhitungan harga sekitar Rp13.000 per kilogram serta tambahan biaya fortifikasi yang diperkirakan sekitar Rp1.000.
"Beras fortifikasi dijual tertinggi Rp 57.000. Mana bisa orang miskin membeli harga Rp 57.000? Padahal begitu dicek, seharusnya harganya Rp 13.000. Karena vitamin tadi yang disyaratkan di labelnya itu tidak sesuai. Ini diduga ya, penipuan selisih Rp 44.000 per kilo, yang tertinggi ya," beber Amran.
