Kandungan nutrisinya berasal dari beras itu sendiri dan dapat dipengaruhi oleh jenis beras serta proses penggilingan.
2. Tampilan Fisik
Salah satu perbedaan yang mungkin terlihat pada beras fortifikasi adalah adanya butiran khusus atau kernel yang dicampurkan dengan beras.
Kernel fortifikasi dapat memiliki tampilan yang sedikit berbeda dari butiran beras pada umumnya.
Namun, ciri fisik saja tidak dapat menjadi satu-satunya dasar untuk memastikan suatu produk benar-benar telah difortifikasi sesuai ketentuan.
Pada beras biasa, butiran cenderung memiliki tampilan yang lebih seragam sesuai dengan jenis dan proses pengolahannya.
Karena itu, konsumen tetap perlu memperhatikan informasi pada kemasan dan ketentuan produk, bukan hanya mengandalkan tampilan fisik beras.
3. Rasa, Aroma, dan Tekstur
Beras yang telah difortifikasi dirancang agar tambahan zat gizi tidak secara signifikan mengubah karakteristik nasi setelah dimasak.
Dengan demikian, proses fortifikasi pada produk yang sesuai ketentuan diharapkan tidak mengubah rasa, aroma, warna, maupun tekstur nasi secara mencolok.
Sementara itu, beras biasa memiliki karakteristik rasa dan aroma yang dipengaruhi jenis beras, kualitas, proses penggilingan, serta cara memasaknya.
Perbedaan karakteristik setelah dimasak juga dapat dipengaruhi oleh varietas beras dan kualitas produk, sehingga tidak selalu dapat digunakan sebagai penentu apakah beras telah difortifikasi atau belum.
4. Harga
Dari sisi harga, beras fortifikasi dapat memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan beras biasa karena terdapat proses tambahan dalam produksinya.
Proses tersebut meliputi penyediaan zat gizi mikro, pembuatan atau pencampuran kernel fortifikasi, pengawasan kualitas, hingga proses produksi dan distribusi.
