POSKOTA.CO.ID - Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda terpantau menunjukkan perubahan aktivitas vulkanik, Senin, 7 September 2026.
Setelah mengalami erupsi terus-menerus selama sekitar 25 jam, gunung api yang berada di wilayah Lampung Selatan tersebut kini memasuki fase erupsi dengan karakteristik Strombolian.
Perubahan tipe erupsi ini menjadi perhatian karena menunjukkan adanya dinamika baru pada sistem vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Berakhirnya episode erupsi menerus bukan berarti Gunung Anak Krakatau memasuki kondisi sepenuhnya tenang.
Setelah fase tersebut berakhir, aktivitas vulkanik justru menunjukkan pola letusan yang berbeda, yakni erupsi Strombolian.
Badan Geologi mencatat adanya beberapa kali erupsi Strombolian setelah episode erupsi menerus berakhir.
"Tiga kali erupsi Strombolian terjadi setelah episode erupsi menerus berakhir," kata Badan Geologi lewat akun Threads @badan.geologi, Senin, 7 September 2026.
Kemunculan erupsi tersebut memperlihatkan bahwa sistem vulkanik Gunung Anak Krakatau masih aktif.
Perubahan pola letusan juga menjadi bagian penting yang dipantau para ahli untuk melihat perkembangan aktivitas gunung api dalam beberapa waktu ke depan.
Lantas, seberapa berbahaya erupsi Strombolian yang kini terjadi di Gunung Anak Krakatau?
Apa saja material yang dapat terlontar dari kawah dan bagaimana ciri-ciri letusan tipe Strombolian? Simak informasi selengkapnya.
Apa Itu Letusan Strombolian?
Istilah Strombolian diambil dari nama Gunung Stromboli, sebuah gunung api yang berada di pulau vulkanik di antara Sisilia dan Italia.
Gunung Stromboli dikenal memiliki aktivitas erupsi yang berlangsung sangat lama.
Letusannya yang secara berkala memancarkan cahaya pijar membuat gunung tersebut mendapatkan julukan sebagai "Mercusuar Mediterania".
Dalam kajian vulkanologi, tipe Strombolian dikenal sebagai salah satu bentuk letusan eksplosif dengan energi relatif rendah hingga sedang.
Letusannya tidak selalu menghasilkan kolom erupsi yang menjulang tinggi dan berlangsung terus-menerus.
Sebaliknya, aktivitas Strombolian lebih sering ditandai oleh ledakan-ledakan singkat yang melontarkan material vulkanik dari kawah.
Material tersebut dapat berupa bom vulkanik, lapili, abu, maupun fragmen batuan pijar.
Bagaimana Proses Terjadinya Erupsi Strombolian?
Salah satu mekanisme penting dalam erupsi Strombolian adalah terbentuknya gelembung gas berukuran besar di dalam magma.
Gelembung gas tersebut dapat bergerak naik melalui saluran magma menuju permukaan.
Ketika gelembung tersebut mencapai bagian atas saluran dan pecah, tekanan gas dilepaskan secara tiba-tiba.
Pelepasan energi tersebut kemudian menghasilkan ledakan yang membawa magma dan material vulkanik ke udara.
Setelah tekanan gas berkurang, kondisi di dalam saluran kembali mengalami penyesuaian.
Gelembung gas baru kemudian dapat terbentuk dan bergerak menuju permukaan. Siklus tersebut dapat berulang berkali-kali.
Inilah salah satu alasan mengapa erupsi Strombolian dapat berlangsung secara berkala dan tidak selalu menyebabkan kerusakan besar pada struktur gunung api dalam setiap letusannya.
Dengan demikian, meski letusannya relatif lebih kecil, aktivitas Strombolian tetap menunjukkan bahwa terdapat proses vulkanik yang aktif di bawah permukaan.
Baca Juga: Sejarah Gunung Krakatau dan Anak Krakatau, dari Letusan Dahsyat hingga Tsunami 2018
Seberapa Berbahaya Erupsi Strombolian?
Jika dibandingkan dengan erupsi eksplosif yang menghasilkan kolom abu sangat tinggi atau awan panas dalam skala besar, tipe Strombolian umumnya memiliki energi yang lebih rendah.
Namun, bukan berarti erupsi jenis ini sama sekali tidak berbahaya. Risiko utama dapat berasal dari material pijar yang terlontar dari kawah.
Bom vulkanik dan batuan pijar dapat bergerak dengan kecepatan tinggi sebelum jatuh kembali ke permukaan.
Radius lontarannya bergantung pada kekuatan ledakan, ukuran material, kondisi kawah, serta faktor vulkanologi lainnya.
Selain material lontaran, abu vulkanik juga dapat muncul dalam aktivitas Strombolian.
Jika arah angin membawa abu ke wilayah tertentu, masyarakat dapat mengalami gangguan jarak pandang maupun dampak terhadap kualitas udara.
Karena itu, status aktivitas gunung api dan rekomendasi dari otoritas terkait tetap menjadi acuan utama bagi masyarakat di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.
Material Apa Saja yang Dapat Terlontar?
Erupsi Strombolian umumnya menghasilkan sejumlah material vulkanik yang keluar dari kawah melalui ledakan. Material tersebut memiliki ukuran dan karakter yang berbeda.
Beberapa material yang umum ditemukan dalam erupsi tipe Strombolian antara lain:
- Bom vulkanik, yakni material magma berukuran relatif besar yang terlontar ketika masih panas dan dapat mengalami perubahan bentuk saat berada di udara.
- Lapili, berupa fragmen vulkanik berukuran lebih kecil dibandingkan bom vulkanik.
- Abu vulkanik, berupa partikel sangat halus yang dapat terbawa angin ke wilayah yang lebih jauh.
- Scoria, yaitu batuan vulkanik berongga yang terbentuk dari magma kaya gas dan mengalami pendinginan setelah terlontar.
- Material pijar, yang dapat terlihat sebagai semburan atau lontaran berwarna merah-oranye ketika terjadi pada kondisi gelap.
Material-material tersebut dapat menumpuk di sekitar kawah dan membentuk lapisan baru pada tubuh gunung api.
Ciri-ciri Letusan Strombolian
Untuk memahami karakter erupsi Strombolian, terdapat sejumlah ciri yang dapat menjadi pembeda dengan tipe letusan lainnya.
1. Lontaran Material Vulkanik
Erupsi Strombolian banyak ditandai dengan lontaran material padat seperti bom vulkanik, lapili, abu, dan scoria.
Material yang masih panas dapat terlihat berpijar ketika terlontar dari kawah.
2. Ledakan Terjadi Secara Berkala
Salah satu ciri yang paling mudah dikenali adalah adanya ledakan yang berlangsung secara berkala. Jeda antarletusan dapat berbeda-beda tergantung kondisi sistem vulkanik.
Pola tersebut terjadi karena proses pembentukan dan pelepasan gelembung gas di dalam magma terus berulang.
3. Magma Relatif Cair
Erupsi Strombolian umumnya berkaitan dengan magma yang cukup cair sehingga gas dapat bergerak dan terkumpul dalam bentuk gelembung.
Kondisi magma tersebut memungkinkan terjadinya pelepasan gas secara episodik yang kemudian memicu ledakan.
4. Tidak Selalu Membentuk Kolom Abu Tinggi
Berbeda dengan tipe erupsi yang sangat eksplosif, letusan Strombolian umumnya tidak menghasilkan kolom abu yang sangat tinggi secara terus-menerus.
Meski demikian, abu tetap dapat terbentuk dan terbawa angin, tergantung kekuatan erupsi dan kondisi atmosfer.
5. Aliran Lava Tidak Selalu Dominan
Erupsi Strombolian murni lebih dikenal karena ledakan dan lontaran material.
Aliran lava yang lebih tenang dapat muncul ketika kondisi magma dan saluran vulkanik memungkinkan.
Karakter setiap gunung api tetap dapat berbeda sehingga perubahan aktivitas perlu diamati secara langsung melalui pemantauan vulkanologi.
Apa Arti Perubahan Fase bagi Gunung Anak Krakatau?
Perubahan dari erupsi menerus menjadi erupsi Strombolian menunjukkan adanya perubahan dalam mekanisme pelepasan energi vulkanik.
Fase erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam telah berakhir, tetapi setelahnya muncul beberapa erupsi Strombolian.
Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa aktivitas vulkanik masih berlangsung dan belum sepenuhnya berhenti.
Kemunculan letusan secara sporadis juga menjadi alasan pentingnya pemantauan berkelanjutan.
Perilaku gunung api dapat berubah kembali sesuai dengan kondisi magma dan tekanan gas di dalam tubuh gunung.
Dengan demikian, masyarakat tidak sebaiknya mengartikan berakhirnya erupsi menerus sebagai tanda bahwa seluruh potensi bahaya telah hilang.
