Erupsi Strombolian Gunung Anak Krakatau Seberapa Berbahaya? Kenali Ciri dan Material Lontarannya

Senin 07 Sep 2026, 14:54 WIB
Gunung Anak Krakatau memasuki fase erupsi Strombolian. (Sumber: X/@indepenSumatera)
Gunung Anak Krakatau memasuki fase erupsi Strombolian. (Sumber: X/@indepenSumatera)

Setelah tekanan gas berkurang, kondisi di dalam saluran kembali mengalami penyesuaian.

Gelembung gas baru kemudian dapat terbentuk dan bergerak menuju permukaan. Siklus tersebut dapat berulang berkali-kali.

Inilah salah satu alasan mengapa erupsi Strombolian dapat berlangsung secara berkala dan tidak selalu menyebabkan kerusakan besar pada struktur gunung api dalam setiap letusannya.

Dengan demikian, meski letusannya relatif lebih kecil, aktivitas Strombolian tetap menunjukkan bahwa terdapat proses vulkanik yang aktif di bawah permukaan.

Baca Juga: Sejarah Gunung Krakatau dan Anak Krakatau, dari Letusan Dahsyat hingga Tsunami 2018

Seberapa Berbahaya Erupsi Strombolian?

Jika dibandingkan dengan erupsi eksplosif yang menghasilkan kolom abu sangat tinggi atau awan panas dalam skala besar, tipe Strombolian umumnya memiliki energi yang lebih rendah.

Namun, bukan berarti erupsi jenis ini sama sekali tidak berbahaya. Risiko utama dapat berasal dari material pijar yang terlontar dari kawah.

Bom vulkanik dan batuan pijar dapat bergerak dengan kecepatan tinggi sebelum jatuh kembali ke permukaan.

Radius lontarannya bergantung pada kekuatan ledakan, ukuran material, kondisi kawah, serta faktor vulkanologi lainnya.

Selain material lontaran, abu vulkanik juga dapat muncul dalam aktivitas Strombolian.

Jika arah angin membawa abu ke wilayah tertentu, masyarakat dapat mengalami gangguan jarak pandang maupun dampak terhadap kualitas udara.

Karena itu, status aktivitas gunung api dan rekomendasi dari otoritas terkait tetap menjadi acuan utama bagi masyarakat di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.


Berita Terkait


News Update