Erupsi Strombolian Gunung Anak Krakatau Seberapa Berbahaya? Kenali Ciri dan Material Lontarannya

Senin 07 Sep 2026, 14:54 WIB
Gunung Anak Krakatau memasuki fase erupsi Strombolian. (Sumber: X/@indepenSumatera)
Gunung Anak Krakatau memasuki fase erupsi Strombolian. (Sumber: X/@indepenSumatera)

POSKOTA.CO.ID - Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda terpantau menunjukkan perubahan aktivitas vulkanik, Senin, 7 September 2026.

Setelah mengalami erupsi terus-menerus selama sekitar 25 jam, gunung api yang berada di wilayah Lampung Selatan tersebut kini memasuki fase erupsi dengan karakteristik Strombolian.

Perubahan tipe erupsi ini menjadi perhatian karena menunjukkan adanya dinamika baru pada sistem vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Berakhirnya episode erupsi menerus bukan berarti Gunung Anak Krakatau memasuki kondisi sepenuhnya tenang.

Setelah fase tersebut berakhir, aktivitas vulkanik justru menunjukkan pola letusan yang berbeda, yakni erupsi Strombolian.

Badan Geologi mencatat adanya beberapa kali erupsi Strombolian setelah episode erupsi menerus berakhir.

"Tiga kali erupsi Strombolian terjadi setelah episode erupsi menerus berakhir," kata Badan Geologi lewat akun Threads @badan.geologi, Senin, 7 September 2026.

Kemunculan erupsi tersebut memperlihatkan bahwa sistem vulkanik Gunung Anak Krakatau masih aktif.

Perubahan pola letusan juga menjadi bagian penting yang dipantau para ahli untuk melihat perkembangan aktivitas gunung api dalam beberapa waktu ke depan.

Lantas, seberapa berbahaya erupsi Strombolian yang kini terjadi di Gunung Anak Krakatau?

Apa saja material yang dapat terlontar dari kawah dan bagaimana ciri-ciri letusan tipe Strombolian? Simak informasi selengkapnya.


Berita Terkait


News Update