Dampak Paparan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Dokter Sebut Bisa Muncul hingga 14 Hari Lebih

Senin 07 Sep 2026, 14:18 WIB
Ilustrasi dampak paparan abu vulkanik akibat eruspsi Gunung Anak Krakatau. (Sumber: Magnific/Rawpixel)
Ilustrasi dampak paparan abu vulkanik akibat eruspsi Gunung Anak Krakatau. (Sumber: Magnific/Rawpixel)

POSKOTA.CO.ID - Paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau menyimpan bahaya serius bagi kesehatan, mulai dari iritasi ringan hingga gangguan organ dalam. Dampak paparan ini dapat muncul secara singkat (akut) maupun berkembang dalam jangka panjang (kronis).

Praktisi kesehatan masyarakat, dr. Ngabila Salama, mengingatkan pentingnya kewaspadaan masyarakat, terutama saat beraktivitas di luar rumah.

"Dampak akut bisa hitungan jam sampai tujuh hari, sedangkan dampak kronis bisa tujuh sampai 14 hari atau lebih," ujar Ngabila dalam keterangannya, Senin, 7 September 2026.

Baca Juga: Antisipasi ISPA Akibat Abu Vulkanik Krakatau, Polres Metro Depok Sebar 1.000 Masker di Margonda

Dampak Abu Vulkanik dan Penanganannya

Menurut Ngabila, paparan abu vulkanik dalam jangka pendek atau akut dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit, sakit kepala, diare, batuk, pilek, bersin, sakit tenggorokan hingga sesak napas. Paparan tersebut juga dapat memicu kambuhnya asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Sementara itu, kata Ngabila, paparan dalam jangka lebih panjang dapat memengaruhi sistem sirkulasi dan kondisi kesehatan lainnya.

Gangguan yang dapat muncul antara lain tekanan darah tinggi (hipertensi), penyakit jantung, gangguan hormon hingga masalah kesehatan mental.

"Untuk mencegah sakit, sebisa mungkin hindari aktivitas di luar ruangan. Kalau terpaksa keluar rumah, anak di atas tiga tahun bisa menggunakan masker KN95, KF94 atau N95," ucap Ngabila.

Baca Juga: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Hari Ini 7 September 2026 Mengarah ke Mana? Cek Peta Sebaran Lewat HP

Ngabila menyarankan masker diganti secara berkala, yakni setiap empat hingga delapan jam atau ketika masker sudah basah.

Selain masker, masyarakat juga dianjurkan menggunakan kacamata hitam serta pakaian tertutup yang tetap nyaman ketika harus beraktivitas di luar ruangan.

"Setelah sampai rumah, langsung ganti dan cuci pakaian, kemudian mandi sampai bersih agar debu tidak menempel di tubuh," ucap Ngabila.

Kemudian untuk menjaga kondisi tubuh, kata Ngabila, masyarakat juga dianjurkan mencukupi kebutuhan cairan dengan minum air putih sekitar 3-4 liter per hari.

Jika mengalami iritasi mata, penggunaan tetes mata steril dapat dilakukan, sementara pelembap kulit dapat digunakan untuk mengurangi dampak paparan abu pada kulit.

Selain itu, Ngabila juga mengingatkan pentingnya mengonsumsi makanan bergizi tinggi protein selama kondisi paparan abu vulkanik.

Di lingkungan rumah, debu yang menempel sebaiknya dibersihkan menggunakan air dan tidak langsung disapu agar partikel abu tidak kembali beterbangan.

"Kalau membersihkan debu, sebaiknya disiram dengan air dan jangan disapu karena debu akan terbang kembali," tutur Ngabila.

Selain itu, pintu dan jendela rumah sebaiknya ditutup untuk mengurangi masuknya abu vulkanik. Penggunaan pendingin ruangan, air purifier atau penyaring udara dengan teknologi HEPA juga dapat membantu menjaga kualitas udara di dalam rumah, dengan catatan perangkat tersebut dibersihkan secara rutin.

Masyarakat juga diminta segera berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami keluhan berat seperti sakit kepala atau diare hebat, iritasi mata dan kulit, serta sesak napas.

Konsultasi melalui layanan telemedicine dan pengantaran obat secara daring dapat menjadi pilihan, terutama bagi kelompok berisiko tinggi seperti bayi, balita, lansia, ibu hamil, dan masyarakat dengan penyakit penyerta.

"Untuk mencegah komplikasi, segera konsultasi ke dokter jika mengalami sakit kepala atau diare hebat, iritasi mata atau kulit, maupun sesak napas," jelas Ngabila.


Berita Terkait


News Update