Obrolan Warteg: Jagalah Hati Jangan Tersulut Emosi

Jumat 04 Sep 2026, 07:38 WIB
Ilustrasi Obrolan Warteg, Jumat, 4 September 2026. (Sumber: Pos Kota/ Arif Setiadi)
Ilustrasi Obrolan Warteg, Jumat, 4 September 2026. (Sumber: Pos Kota/ Arif Setiadi)

Oleh : Joko Lestari

POSKOTA.CO.ID – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW masih menggelora di berbagai tempat, baik di lingkungan warga, perkantoran maupun sekolah – sekolah, tak terkecuali yang diselenggarakan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Insanul Kamil (Inka) di Taman Titian Indah, Kalibaru, Kota Bekasi, pada Kamis, 3 September 2026.

Peringatan Maulid Nabi dilakukan secara sederhana, namun penuh makna. Banyak pesan moral yang terurai, terlebih disampaikan oleh para siswa yang mengisi seluruh rangkaian cara mulai dari pembacaan ayat – ayat suci hingga hikmah Maulid Nabi yang dibawakan oleh 'ustadzah cilik', Yuna, siswi kelas 3.

Melibatkan langsung para siswa dalam mengisi acara, tak lepas dari upaya mengembangkan potensi, minat dan bakat serta kreativitas para siswa, seperti dikatakan Kepala Sekolah SDIT Inka, Khanafi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Menunggu Janji DPR Sahkan UU Perampasan Aset

“Setuju. Bentuk peringatan tak harus meriah dan mewah. Sederhana tapi penuh makna, sarat edukasi dan pesan moral itulah sejatinya yang diharapkan dalam setiap momen peringatan hari besar, terlebih Maulid Nabi,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.

“Ditambah lagi, dengan memadukan pengembangan potensi siswa secara menyeluruh agar mampu berpikir kritis, mandiri, menjadi manusia yang berintegritas. Ini selaras dengan tujuan utama pendidikan kita,” kata Yudi.

“Di tengah acara disajikan juga drama musikal sarat pesan moral yang ditampilkan para siswa, cukup apik,” ujar mas Bro.

“Kalian ikut hadir dalam peringatan Maulid Nabi di SDIT Inka?” tanya Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Prihatin, Petinggi PTN Terjerat Korupsi Penerimaan Mahasiswa Baru 

“Hadir diundang sebagai  pembina Yayasan Inka oleh pak Kepsek, mas Khanafi,” jawab mas Bro.

“Gimana alur cerita drama musikal dimaksud?” tanya Heri penasaran.

“Drama musikal adalah pertunjukan yang menggabungkan musik, akting, nyanyian dan tarian yang didalamnya terdapat pesan moral,” jelas mas Bro.

“Lanjut Bro,” pinta Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Sidang Tahunan MPR Tidak akan Putar Musik Berjoget

Begini ceritanya, mulanya diajukan pertanyaan kapan Nabi Muhammad SAW dilahirkan? Kelompok pertama menjawab tanggal 12 Rabiul Awal, kelompok kedua bilang salah, yang benar 20 April. Masing – masing bersikukuh dengan jawabannya yang paling benar. Maka, timbulah perdebatan panjang dan bersitegang.

Datanglah kelompok ketiga mendamaikan bahwa semuanya benar. 12 Rabiul Awal itu hitungan Hijriyah, sedangkan 20 April menurut perhitungan tahun masehi. Mereka pun bersalaman penuh damai sambil melantunkan  lagu: Jagalah hati, jangan tersulut emosi. Jagalah hati, jangan kau nodai dan seterusnya, sebagai epilog drama musikal.

“Pesan yang hendak disampaikan bahwa perbedaan itu keniscayaan. Kita harus saling menghargai perbedaan, bukan mempertentangkannya  yang dapat merusak kerukunan, mendatangkan permusuhan,” urai mas Bro.

“Bukankah filosofi berbahasa Jawa menyebutkan: Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah. Rukun membawa kekuatan dan kedamaian, sedangkan perpecahan membawa kehancuran,” jelas Heri.

“Beruntung ya, pihak ketiga datang mendamaikan, coba memprovokasi, apa yang terjadi?” ujar Yudi.


Berita Terkait


News Update