“Gimana alur cerita drama musikal dimaksud?” tanya Heri penasaran.
“Drama musikal adalah pertunjukan yang menggabungkan musik, akting, nyanyian dan tarian yang didalamnya terdapat pesan moral,” jelas mas Bro.
“Lanjut Bro,” pinta Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Sidang Tahunan MPR Tidak akan Putar Musik Berjoget
Begini ceritanya, mulanya diajukan pertanyaan kapan Nabi Muhammad SAW dilahirkan? Kelompok pertama menjawab tanggal 12 Rabiul Awal, kelompok kedua bilang salah, yang benar 20 April. Masing – masing bersikukuh dengan jawabannya yang paling benar. Maka, timbulah perdebatan panjang dan bersitegang.
Datanglah kelompok ketiga mendamaikan bahwa semuanya benar. 12 Rabiul Awal itu hitungan Hijriyah, sedangkan 20 April menurut perhitungan tahun masehi. Mereka pun bersalaman penuh damai sambil melantunkan lagu: Jagalah hati, jangan tersulut emosi. Jagalah hati, jangan kau nodai dan seterusnya, sebagai epilog drama musikal.
“Pesan yang hendak disampaikan bahwa perbedaan itu keniscayaan. Kita harus saling menghargai perbedaan, bukan mempertentangkannya yang dapat merusak kerukunan, mendatangkan permusuhan,” urai mas Bro.
“Bukankah filosofi berbahasa Jawa menyebutkan: Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah. Rukun membawa kekuatan dan kedamaian, sedangkan perpecahan membawa kehancuran,” jelas Heri.
“Beruntung ya, pihak ketiga datang mendamaikan, coba memprovokasi, apa yang terjadi?” ujar Yudi.
