Namun, gelombang tsunami tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk mencapai pesisir utara Jakarta.
"Meski relatif rendah, ancaman tsunami tetap perlu diperhitungkan karena dapat berinteraksi dengan kondisi pesisir Jakarta yang menghadapi persoalan penurunan muka tanah," tuturnya.
Risiko genangan dapat meningkat apabila gelombang tsunami datang bersamaan dengan pasang air laut atau rob. Kondisi tersebut berpotensi membuat limpasan air laut masuk lebih jauh ke wilayah daratan, terutama kawasan Jakarta Utara yang sebagian wilayahnya mengalami penurunan tanah dan berada sangat rendah terhadap muka laut.
"Dari sisi ketahanan perkotaan, gempa besar juga berpotensi menimbulkan bencana berantai. Salah satunya adalah likuifaksi, yakni kondisi ketika tanah kehilangan kekuatannya akibat meningkatnya tekanan air pori saat mengalami guncangan," tuturnya.
Wilayah Jakarta bagian utara dan kawasan pesisir dengan endapan tanah relatif muda, termasuk area di sekitar bekas aliran sungai, perlu mendapat perhatian. Kondisi tanah tersebut berpotensi mengalami penurunan fondasi secara mendadak ketika diguncang gempa kuat.
Baca Juga: Update Terbaru Korban Gempa NTT Tembus 100 Jiwa, 180 Ribu Orang Mengungsi
Tak hanya itu, kata Daryono, gangguan juga dapat merambat ke sistem infrastruktur dan distribusi energi. Guncangan kuat berpotensi mengganggu kawasan industri, jaringan listrik, hingga fasilitas dan pasokan minyak serta gas sehingga dampaknya tidak berhenti pada kerusakan bangunan.
Di tengah kepadatan penduduk Jakarta, gangguan transportasi dan kepanikan massal juga dapat memperburuk situasi. Penghentian sementara sistem transportasi berbasis rel seperti MRT dan LRT, pemadaman listrik, serta kepadatan kendaraan dapat menghambat mobilitas warga dan mempersempit jalur evakuasi.
Ia menerangkan, bahaya lain yang perlu diantisipasi adalah kegagalan tanah atau ground failure, yang dapat berupa tanah terbelah, amblesan, kerusakan jalan, hingga terputusnya akses transportasi sehingga menghambat evakuasi dan distribusi bantuan. Kerusakan fasilitas industri, khususnya yang berkaitan dengan bahan kimia, juga berpotensi menimbulkan risiko berupa paparan gas atau bahan berbahaya.
"Kondisi ini membuat penanganan pascagempa membutuhkan kesiapan lintas sektor, tidak hanya dari sisi pencarian dan penyelamatan korban," katanya.
Baca Juga: Profil Bang Jek, Ahmad Zaki Ali yang Gugur Saat Antar Bantuan Gempa NTT hingga Dimakamkan di Jakarta
Selain itu, kebakaran dapat menjadi ancaman serius setelah gempa. Korsleting listrik, kerusakan jaringan energi, maupun peralatan rumah tangga seperti kompor yang terguling dapat memicu kebakaran di sejumlah lokasi secara bersamaan.
