Pengamat Sebut El Nino hingga Biaya Pakan Ternak Picu Harga Bahan Pokok Naik

Selasa 01 Sep 2026, 18:09 WIB
Aktivitas niaga di pasar tradisional Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa, 1 September 2026. (Sumber: Poskota/Ali Mansur)
Aktivitas niaga di pasar tradisional Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa, 1 September 2026. (Sumber: Poskota/Ali Mansur)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan harga bahan pokok di pasar tradisional dipengaruhi sejumlah faktor, mulai kondisi cuaca hingga biaya produksi dan distribusi. Disebutnya, musim kemarau panjang yang dipicu El Nino menjadi salah satu faktor yang berpotensi menekan produksi sejumlah komoditas pangan.

Ibrahim menjelaskan, kondisi kemarau membuat ketersediaan air untuk pertanian berkurang. Terhentinya aliran air di sejumlah sungai dan saluran irigasi dapat mengganggu proses penanaman, terutama untuk komoditas seperti cabai, bawang merah dan berbagai jenis sayuran.

"Memasuki bulan September ini, kemungkinan besar semua harga-harga pokok itu akan naik karena bersamaan dengan El Nino. El Nino, musim kering, musim panas, kemudian pembakaran lahan, ini yang membuat harga-harga mengalami kenaikan, terutama beras," kata Ibrahim kepada Poskota, Selasa, 1 September 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut berdampak pada jumlah pasokan di pasar karena produksi sejumlah komoditas mengalami penurunan. Ketika pasokan berkurang sementara permintaan masyarakat tetap tinggi, harga cabai, bawang merah, dan berbagai jenis sayuran pun berpotensi mengalami kenaikan.

Baca Juga: Mendag Pastikan Pemerintah Pantau Pasokan dan Harga Bahan Pokok di Tengah Lonjakan

"Sehingga barangnya tidak ada, produksinya berkurang, permintaannya tinggi, membuat harga semakin naik," ujarnya.

Ia menjelaskan, beras menjadi salah sebuah komoditas yang dinilai paling terdampak kondisi tersebut. Ibrahim menjelaskan, musim kemarau dapat menurunkan produksi beras sehingga harga di tingkat konsumen ikut terdorong naik, terutama jika pasokan tidak segera mencukupi kebutuhan masyarakat.

Selain faktor cuaca, kenaikan harga energi juga berpotensi memberikan tekanan terhadap harga bapok. Ibrahim menyoroti kenaikan harga minyak mentah dunia yang dapat berdampak terhadap harga BBM nonsubsidi dan kemudian meningkatkan ongkos transportasi.

"Pada saat BBM non-subsidi mengalami kenaikan, sehingga berdampak terhadap transportasi. Nah, kalau transportasi naik, beban barang yang ada di Jakarta ini pun harganya lebih tinggi," ucapnya.

Baca Juga: Harga Bahan Pokok Kompak Melonjak Awal September, Cabai Rawit Merah Tembus Rp81 Ribu per Kg

Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas peternakan akibat meningkatnya biaya pakan. Ibrahim mengatakan sebagian bahan pakan ternak berasal dari impor sehingga kondisi geopolitik global, termasuk konflik yang memanas di Timur Tengah dan Eropa Timur, dapat ikut memengaruhi biaya produksi peternak.

"Bahan pakan ini barang impor, bahan pakan untuk peternak. Ini bahan pakannya tinggi tapi harganya nanti lebih murah. Nah, ini tidak seimbang. Sehingga membuat harga-harga naik," tutur Ibrahim.

Dampak kenaikan harga tersebut menurut Ibrahim sudah terlihat di pasar tradisional. Ia mencontohkan harga buncis yang sebelumnya sekitar Rp15 ribu per kilogram dapat meningkat hingga Rp35 ribu per kilogram ketika pasokan berkurang dan harga jual menjadi terlalu tinggi bagi konsumen.

"Yang tidak ada itu adalah buncis. Itu buncis tidak ada karena harganya lebih mahal. Kemudian harga timun, itu pun juga mahal luar biasa. Akhirnya konsumen tidak mau beli," tuturnya.

Dengan demikian, kata Ibrahim, kenaikan harga bapok tidak hanya disebabkan satu faktor. Gangguan produksi akibat cuaca, berkurangnya pasokan, tingginya biaya pakan dan potensi kenaikan ongkos distribusi menjadi sejumlah faktor yang dapat mendorong harga pangan semakin tinggi di pasar.


Berita Terkait


News Update