BANDUNG BARAT, POSKOTA.CO.ID - Enam bulan berlalu sejak longsor dahsyat menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, luka para korban belum benar-benar sembuh.
Ditengah berbagai bantuan yang telah digelontorkan pemerintah, persoalan paling mendasar justru belum terjawab. Hingga saat ini kepastian relokasi lahan yang menjadi sumber penghidupan ratusan petani masih bias.
Tanpa kepastian itu, ancaman kehilangan mata pencaharian kini berubah menjadi bayang-bayang lahirnya kantong-kantong kemiskinan baru di kawasan terdampak bencana.
Longsor yang terjadi pada 24 Januari 2026 akibat hujan berintensitas tinggi tersebut menimbun puluhan rumah, memaksa ratusan warga mengungsi, menelan puluhan korban jiwa, serta menghancurkan kawasan pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
Baca Juga: Dilema Batu Kapur Cipatat: Debu Harus Berhenti, Perut Warga Tak Boleh Kosong
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat memang telah menyalurkan bantuan pangan, benih hortikultura, hingga bibit tanaman. Rehabilitasi lingkungan juga mulai dilakukan melalui penyebaran benih tanaman keras menggunakan drone di kawasan terdampak.
Namun seluruh bantuan itu dinilai belum mampu menjawab persoalan utama karena para petani hingga kini belum mengetahui apakah mereka masih bisa kembali menggarap lahannya atau harus meninggalkan lahan tersebut untuk selamanya.
30 Hektare Lahan Pertanian Terdampak Longsor
Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bandung Barat mencatat sekitar 30 hektare lahan pertanian terdampak longsor. Besarnya kerusakan membuat pemerintah belum berani mengambil keputusan sebelum hasil kajian teknis dari Kementerian Lingkungan Hidup diterbitkan.
Kepala DKPP Kabupaten Bandung Barat, Lukmanul Hakim, mengatakan pemerintah masih menunggu hasil kajian tersebut sebagai dasar menentukan langkah selanjutnya.
Baca Juga: Warga Cipatat Tolak Pengeboran Gunung Guha, Khawatir Tambang Rusak Sumber Air
"Kami masih menunggu hasil kajian dari Kementerian Lingkungan Hidup terkait kondisi lahan pertanian yang terdampak longsor," kata Lukman.
