Dilema Batu Kapur Cipatat: Debu Harus Berhenti, Perut Warga Tak Boleh Kosong

Selasa 04 Agu 2026, 19:49 WIB
Kondisi kawasan Jalan Raya Cipatat yang terkena dampak debu batu kapur. (Sumber: Poskota/Gatot Poedji Utomo)
Kondisi kawasan Jalan Raya Cipatat yang terkena dampak debu batu kapur. (Sumber: Poskota/Gatot Poedji Utomo)

BANDUNG BARAT, POSKOTA.CO.ID - Penutupan aktivitas sejumlah pabrik pengolahan batu kapur di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, menghadirkan persoalan yang tak sederhana.

Disatu sisi, langkah penghentian operasional disambut sebagai upaya mengurangi pencemaran debu yang selama bertahun-tahun dikeluhkan warga. Namun di sisi lain, keputusan itu justru membuat roda perekonomian masyarakat tersendat.

Saat ini, wajah Cipatat seolah berada di persimpangan. Debu memang perlahan diharapkan berkurang, tetapi warung-warung kecil mulai kehilangan pembeli, pedagang mengeluhkan omzet anjlok, sementara banyak pekerja harus menerima kenyataan dirumahkan.

Pantauan Pos Kota di kawasan industri kapur Cipatat Selasa 4 Agustus 2026 menunjukkan, debu putih masih tampak menyelimuti lingkungan. Pepohonan yang semula hijau berubah kusam, bangunan hingga masjid tertutup lapisan debu.

Baca Juga: Tambang Ilegal Hambat Distribusi Kapur, UMKM di Cipatat Terpukul

Kondisi itu selama ini menjadi bukti nyata dampak aktivitas industri batu kapur terhadap lingkungan.

Namun bagi warga yang menggantungkan hidup dari industri tersebut, penutupan pabrik justru memunculkan persoalan baru.

Oom 56 tahun, pedagang yang sudah bertahun-tahun berjualan di kawasan Cipatat, mengaku penghasilannya merosot tajam sejak banyak pekerja pabrik tidak lagi bekerja.

"Ya pendapatan tentu saya menurun. Banyak karyawan yang dirumahkan. Di kampung atas saja ada dua RW yang hampir semuanya menganggur. Mereka biasanya belanja ke warung saya," ujar Oom.

Baca Juga: Warga Bandung Sambut Positif Rencana Reaktivasi Jalur Kereta Cipatat-Padalarang

Menurutnya, sebagian besar pelanggan merupakan pekerja pabrik kapur. Ketika aktivitas industri berhenti, jumlah pembeli ikut menghilang sehingga pendapatan pedagang kecil langsung terdampak.


Berita Terkait


News Update