Warga Cipatat Tolak Pengeboran Gunung Guha, Khawatir Tambang Rusak Sumber Air

Rabu 29 Jul 2026, 15:14 WIB
Salah satu lokasi mata air Cisaladah di pegunungan Guha Leuweung Hideung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Poskota/Gatot Poedji Utomo)
Salah satu lokasi mata air Cisaladah di pegunungan Guha Leuweung Hideung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Poskota/Gatot Poedji Utomo)

BANDUNG BARAT, POSKOTA.CO.ID - Aktivitas pengeboran menggunakan alat berat di kawasan Gunung Guha dan Leuweung Hideung, Desa Ciptaharja, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), memicu penolakan keras dari warga.

Mereka khawatir kegiatan yang diduga sebagai bagian dari eksplorasi tambang batu kapur itu akan mengancam sumber mata air yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat.

Penolakan mengemuka setelah video aktivitas pengeboran beredar luas di media sosial. Dalam rekaman tersebut terlihat sejumlah pekerja mengoperasikan mesin bor berukuran besar di kawasan perkebunan sekitar Gunung Guha dan Leuweung Hideung.

Koordinator Aliansi Warga Ciptaharja Tolak Tambang Gunung Guha Leuweung Hideung, Syaeful Irfan, mengatakan kawasan tersebut memiliki fungsi vital sebagai daerah resapan dan penyimpan air yang memasok kebutuhan ribuan warga.

Baca Juga: Disembunyikan di Gang Kecil, Lamborghini Huracan Milik Tersangka Korupsi Tambang Disita Kejagung

"Gunung Guha Leuweung Hideung memiliki fungsi sebagai gentong air atau area tangkapan air. Banyaknya pepohonan serta struktur batuan karst membuat kawasan ini menyimpan cadangan air yang sangat besar," ujar Syaeful kepada Poskota, Rabu, 29 Juli 2025.

Ia menjelaskan sedikitnya terdapat lima mata air utama yang bersumber dari kawasan tersebut, yakni Mata Air Cipaneguh, Pasir Sepat, Cisaladah, Ciketung, dan Cijawer. Seluruh sumber air itu dimanfaatkan warga untuk kebutuhan rumah tangga sekaligus mengairi lahan pertanian.

Menurutnya, warga di Kampung Pojok, Cijuhung, Sirnagalih, Cibiru, Cibarengkok, Gunungbatu, Sawah Lega, Cileat, Talun, hingga Cioray di Desa Ciptaharja menggantungkan kebutuhan air dari kawasan tersebut. Sebagian warga Desa Cipatat juga memanfaatkan sumber air yang sama.

"Kalau kawasan ini dibuka untuk pertambangan, kami khawatir mata air akan terganggu. Padahal sumber air ini menjadi penopang kehidupan warga dan pertanian," ungkapnya.

Baca Juga: Satgas Masih Dalami Dugaan Pelanggaran Perusaahaan Tambang Milik Sherly Tjoanda

Selain mengancam sumber air, lanjut dia, warga menilai aktivitas pertambangan berpotensi menghilangkan lahan pertanian yang selama ini menjadi mata pencaharian masyarakat.


Berita Terkait


News Update