Selama menunggu hasil kajian, kata dia, pemerintah fokus pada penanganan jangka pendek. Bersama Badan Pangan Nasional dan Kementerian Pertanian, berbagai bantuan telah disalurkan kepada warga terdampak.
"Pemkab Bandung Barat sudah menyalurkan berbagai sarana produksi berupa benih cabai rawit, mentimun, tomat, bibit alpukat hingga mulsa plastik kepada sejumlah kelompok tani," katanya.
Meski demikian, Lukman mengakui bantuan tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal karena lahan yang menjadi tempat bercocok tanam belum dipastikan aman untuk digunakan kembali.
Baca Juga: Pelaku Pembunuhan Bocah 12 Tahun di Cipatat Bandung Barat Ditangkap Kurang dari 24 Jam
Dari hasil pengamatan awal, sebagian lahan mengalami kerusakan cukup berat. Selain berpotensi menurunkan produktivitas pertanian, kondisi itu juga dinilai membahayakan keselamatan petani jika aktivitas budidaya dipaksakan dilakukan.
Sebagai bagian dari pemulihan lingkungan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Dinas Kehutanan mulai melakukan rehabilitasi kawasan dengan menyebarkan benih tanaman keras menggunakan drone di area yang sulit dijangkau.
Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat pemulihan vegetasi sekaligus mengurangi risiko bencana serupa.
Di sisi lain, Pemkab Bandung Barat juga menyiapkan skenario relokasi lahan pertanian.
Kawasan yang dinilai tidak lagi layak untuk hortikultura direncanakan dikembalikan menjadi kawasan hutan produktif dengan komoditas seperti durian, kopi, dan berbagai tanaman keras lainnya.
"Nantinya, petani akan difasilitasi memperoleh lahan pengganti agar tetap dapat melanjutkan aktivitas bertani," ucapnya.
Namun sayangnya, hingga memasuki bulan keenam pascabencana, rencana relokasi itu masih sebatas pembahasan.
Berbagai rapat koordinasi telah dilakukan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Dinas Kehutanan, Pertamina, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
