Miris, Warga Berkebutuhan Khusus di Pandeglang Tak Kuasa Berobat Pakai BPJS

Senin 06 Jul 2026, 17:54 WIB
Siti Lutfiah, warga berkebutuhan khusus di Pandeglang hanya terbaring di tempat tidur. (Sumber: Poskota/Samsul Fatoni)
Siti Lutfiah, warga berkebutuhan khusus di Pandeglang hanya terbaring di tempat tidur. (Sumber: Poskota/Samsul Fatoni)

PANDEGLANG, POSKOTA.CO.ID – Selama 19 tahun, Siti Lutfiah hanya bisa terbaring di tempat tidur di rumah sederhananya di Kampung Kubang, Desa Mekarwangi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Anak berkebutuhan khusus tersebut mengalami gangguan perkembangan sejak masih bayi. 

Di tengah kondisinya itu, keluarga juga harus menghadapi keterbatasan ekonomi. Bahkan, kepesertaan BPJS Kesehatan milik Siti sudah tidak aktif sehingga biaya pengobatan harus ditanggung secara mandiri.

Siti merupakan putri ketiga pasangan Sudisman dan Anawiyah. Menurut sang ibu, kondisi putrinya mulai berubah setelah mengalami kejang disertai demam tinggi saat masih kecil.

Baca Juga: Cara Klaim BPJS Ketenagakerjaan Online Lewat Lapak Asik, Simak Dokumen yang Dibutuhkan

Sejak saat itu, kesehatan Siti terus menurun hingga mengalami keterbatasan mental dan tidak mampu berkomunikasi. 

"Seluruh aktivitas sehari-harinya pun masih bergantung sepenuhnya kepada kedua orang tua," ungkap Anawiyah kepada Poskota, Senin 6 Juli 2026.

Anawiyah mengaku, merawat putrinya bukan perkara mudah. Selain membutuhkan perawatan penuh, Siti juga memiliki kebiasaan tidak mau mengenakan pakaian.

"Kalau dipaksa pakai baju suka enggak betah, garuk-garuk terus. Nanti juga dilepas sendiri," katanya.

Baca Juga: Permudah Akses Layanan JKN secara Digital, BPJS Kesehatan Luncurkan VIOLA

Kondisi keluarga semakin memprihatinkan karena mereka tinggal di rumah panggung yang sederhana. Saat Siti sempat mengalami sakit parah, keluarga tidak bisa memanfaatkan layanan BPJS Kesehatan karena kepesertaannya tidak aktif.

Akibatnya, Siti harus menjalani perawatan di RSUD Berkah Cikoneng sebagai pasien umum dengan seluruh biaya ditanggung keluarga.

"Punya BPJS Kesehatan, tapi tidak aktif. Kemarin juga sakit parah enggak bisa berobat pakai BPJS. Dibawa ke RSUD Berkah Cikoneng, dirawat bayar pakai umum," ujarnya.

Anawiyah berharap pemerintah maupun para dermawan dapat membantu agar putrinya memperoleh akses layanan kesehatan yang layak serta bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Baca Juga: Peserta BPJS Keluhkan Pelayanan Klinik di Ciracas, Manajemen Janji Evaluasi

"Kami berharap ada bantuan dari pemerintah ataupun para dermawan untuk membantu pengobatan dan kebutuhan anak kami," harapnya.

Sementara, Kepala Desa Mekarwangi, Ikbaludin, mengatakan, keluarga Siti selama ini telah menerima bantuan sosial berupa Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

"Jadi bantuan PKH dan BPNT keluarganya dapat. Kami tadi baru pulang dari rumahnya bersama Pak Camat, Dinas Sosial, termasuk pendamping PKH," katanya melalui sambungan telepon.

Menurutnya, kendala BPJS Kesehatan yang dialami Siti terjadi karena yang bersangkutan belum memiliki KTP elektronik sehingga kepesertaannya masih menginduk kepada orang tuanya.

"Dia belum punya KTP, makanya BPJS-nya masih menginduk ke orang tuanya. Sekarang sudah dewasa, jadi besok kami arahkan untuk perekaman KTP di kantor kecamatan. Kalau KTP sudah ada, soal BPJS tinggal diajukan," jelasnya.

Ia juga mengaku baru mengetahui secara langsung kondisi Siti karena sebelumnya tidak menerima laporan dari pihak RT setempat.

"Saya juga tidak tahu karena tidak ada laporan dari RT. Harusnya RT melapor ke kami supaya pemerintah desa bisa lebih cepat membantu," tandasnya.


Berita Terkait


News Update