Oleh : Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – Ada kata bijak: Jangan melihat siapa yang mengingatkan, tetapi apa yang diingatkan. Kata bijak senada: Jangan melihat siapa yang mengirim pesan, tetapi lihat apa isi pesan.
Jangan pula hanya melihat siapa yang memberi kritikan, tapi cermati kritik yang disampaikan.
“Jangan karena orang yang mengingatkan, memberi pesan dan kritikan berada di bawah level kita, lantas diabaikan,” ujar mas Bro mengawali obrolan warteg akhir pekan bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Mengurai Benang Kusut Perizinan
“Setuju Bro. Jangan karena pangkat dan derajatnya jauh di bawah kita, kemudian saran dan masukan dipandang sebelah mata. Padahal apa yang disampaikan penuh dengan kejujuran,” kata Heri.
“Boleh jadi isi pesan sejatinya sangat berguna karena berdasarkan fakta yang sesungguhnya, bukan pesan yang dibungkus dengan kepentingan, karena ada maunya,” ujar mas Bro lagi.
“Gue paham, melihat seseorang jangan hanya dari satu sisi, apalagi hanya sebatas dengan status sosial ekonominya. Pangkat dan jabatan rendah, tetapi bisa saja lebih mulia dari mereka yang ada di atas,” jelas Yudi.
“Begitu juga jika terdapat kritikan, saran dan masukan jangan melihat hanya dari kalangan atas. Bisa jadi rakyat kecil fokus mengungkap fakta yang sebenarnya, apa yang mereka rasakan sehari – hari, bukan pula mengada – ada,“ urai mas Bro.
Baca Juga: Obrolan Warteg: LCC Empat Pilar yang Lagi Viral
“Jangan seperti kalian, kalau yang mengkritik bos, cepat- cepat dijalankan, bilang siap – siap. Giliran dikritik anak buah, cuek aja, padahal masukan tersebut sangat penting karena bentuk aspirasi bawahan,” ujar Yudi.
“Dan ingat, aspirasi bawahan, rakyat kecil itu murni dari hati nurani, bukan ambisi pribadi, bukan dengan membungkus kepentingan umum demi kepentingan pribadi,” kata mas Bro.
“Iya juga bilangnya untuk kepentingan rakyat, tetapi rakyat yang mana. Begitu aspirasi dipenuhi, hanya kelompoknya yang menikmati, sementara rakyat tidak dapat apa – apa. Kasihan rakyat yang tidak tahu apa – apa ikut dibawa - bawa,” ujar Yudi.
“Memang ada kaum elite yang begitu?” tanya Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Menyeriusi Hantavirus
“Ini bukan ada dan tiada, tetapi mari kita memotivasi diri kita masing – masing agar tidak seperti itu, tidak mengatasnamakan kepentingan umum, tetapi sejatinya tersembunyi kehendak pribadi,” jawab Yudi.
“Setuju, mari kita motivasi diri kita sendiri untuk tidak selalu memandang sebelah mata terhadap mereka yang ada di bawah kita. Terlebih memandang rendah hanya karena mereka ada di bawah. Catat: Yang di bawah belum tentu rendah, yang di atas belum tentu tinggi,” kata mas Bro.
“Mungkin saja yang di atas miskin hati, yang di bawah malah kaya hati ya,” kata Yudi
“Sebaiknya, siapa pun kita, di mana pun berada harus tetap kaya hati, bukan tinggi hati,” kata Heri mengakhiri obrolan warteg akhir pekan.
