Oleh :Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – Situasi di dunia ini diwarnai serba dua yang saling bertolak belakang, seperti kondisi baik dan buruk. Sehat sakit, tinggi rendah, besar kecil, kasar licin, gelap terang dan masih banyak lagi.
Serba dua ini tidak hanya menggambarkan tampilan fisik, sifat kebendaan, situasi dan kondisi, juga sifat – karakter atau sikap perbuatan manusia pada umumnya.
“Tapi sering kita dengar kalimat penilaian terlontar bahwa sifat orang itu agak buruk, sangat baik,” kata bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Kata agak, sangat itu hanyalah diksi atau menggunakan kata yang pantas agar terlihat lebih sopan dengan tidak bermaksud merendahkan. Tapi kata dasarnya adalah baik dan buruk. Nggak ada, agak baik dan sedikit buruk,” urai Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Ketum Parpol Cukup Dua Periode?
“Bicara baik dan buruk itu harus satu paket,jangan dipisah – pisah,” celetuk mas Bro.
“Loh kok bisa?,” tanya Yudi.
“Orang disebut baik karena meninggalkan perilaku buruk, sebaliknya disebut buruk karena meninggalkan hal – hal yang penuh kebaikan. Idealnya kalau sudah mengerjakan hal – hal baik, yang buruk jangan dilakukan. Jangan yang baik oke, yang buruk jalan terus.Misalnya nih, sedekah rajin, tetapi korupsi jalan terus,” urai mas Bro.
“Bicara kamu lagaknya ustad saja,” protes Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Sukses Suami Karena Ada Wanita Hebat di Sampingnya
