“Dan ingat, aspirasi bawahan, rakyat kecil itu murni dari hati nurani, bukan ambisi pribadi, bukan dengan membungkus kepentingan umum demi kepentingan pribadi,” kata mas Bro.
“Iya juga bilangnya untuk kepentingan rakyat, tetapi rakyat yang mana. Begitu aspirasi dipenuhi, hanya kelompoknya yang menikmati, sementara rakyat tidak dapat apa – apa. Kasihan rakyat yang tidak tahu apa – apa ikut dibawa - bawa,” ujar Yudi.
“Memang ada kaum elite yang begitu?” tanya Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Menyeriusi Hantavirus
“Ini bukan ada dan tiada, tetapi mari kita memotivasi diri kita masing – masing agar tidak seperti itu, tidak mengatasnamakan kepentingan umum, tetapi sejatinya tersembunyi kehendak pribadi,” jawab Yudi.
“Setuju, mari kita motivasi diri kita sendiri untuk tidak selalu memandang sebelah mata terhadap mereka yang ada di bawah kita. Terlebih memandang rendah hanya karena mereka ada di bawah. Catat: Yang di bawah belum tentu rendah, yang di atas belum tentu tinggi,” kata mas Bro.
“Mungkin saja yang di atas miskin hati, yang di bawah malah kaya hati ya,” kata Yudi
“Sebaiknya, siapa pun kita, di mana pun berada harus tetap kaya hati, bukan tinggi hati,” kata Heri mengakhiri obrolan warteg akhir pekan.
