POSKOTA.CO.ID - Media Kompas, 20 Desember 2025 menampilkan laporan ekonomi yang cukup provokatif berjudul, “Mengejar Pertumbuhan Ekonomi 2026: Optimisme dan Tantangannya.” Tentu ini mengulang-ulang cara media untuk “melupakan hal paling subtansi dari ekonomi: yaitu pemerataan.”
Dus, pertanyaan paling jelas dari data grafik Kompas.id 2014–2024 bukan seberapa besar PDB Indonesia tumbuh, melainkan "mengapa tidak merata."
Dari grafik yang ditampilkan, diperlihatkan tiga variabel kunci: total kekayaan 40 orang terkaya Indonesia, nilai PDB nasional, dan intensitas oligarki—yakni persentase kekayaan 40 orang terkaya terhadap PDB.
Ketiganya bergerak naik, tetapi dengan makna distribusional yang timpang. Singkatnya: ketimpangan tajam menjadi ciri ekonomi kita sepuluh tahun terakhir.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Menikam Mati Kemelaratan Akut
Secara nominal, PDB Indonesia meningkat signifikan dari sekitar 890 miliar dolar AS pada 2014 menjadi lebih dari 1.400 miliar dolar AS pada 2024. Ini sering dipakai sebagai indikator keberhasilan pembangunan.
Namun pada saat yang sama, total kekayaan 40 orang terkaya melonjak jauh lebih cepat, dari sekitar 95 miliar dolar AS menjadi lebih dari 250 miliar dolar AS. Kenaikannya tidak proporsional, melainkan eksponensial.
Di sinilah indikator intensitas oligarki menjadi kunci baca. Angka ini naik dari kisaran 10 persen pada 2014 menjadi hampir 18 persen pada 2024.
Artinya, hampir seperlima nilai ekonomi nasional setara dengan kekayaan yang dikuasai hanya oleh 40 orang. Ini bukan sekadar ketimpangan biasa, tetapi konsentrasi kekayaan ekstrem dalam struktur ekonomi modern.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Swastanisasi Negara Kita
Grafik ini disusun Kompas.id dengan mengolah data Forbes, World Bank, serta kerangka analisis oligarki dari Jeffrey A. Winters. Winters (2002) menegaskan bahwa oligarki tidak diukur dari jumlah orang kaya, melainkan dari kemampuan mereka mempertahankan dan memperbesar kekayaan relatif terhadap ekonomi nasional. Grafik ini menunjukkan mekanisme itu bekerja secara konsisten di Indonesia.
