POSKOTA.CO.ID - Indonesia mulai melirik potensi besar dari jalur pelayaran internasional yang selama ini dilalui ribuan kapal setiap tahun. Selat Malaka, sebagai salah satu jalur perdagangan dan energi tersibuk di dunia, dinilai belum dimanfaatkan secara optimal dari sisi penerimaan negara.
Gagasan baru pun mencuat dari Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang membuka peluang pengenaan pajak atau biaya bagi kapal-kapal yang melintas.
Wacana ini langsung menarik perhatian karena menyangkut kepentingan global sekaligus posisi strategis Indonesia di peta perdagangan dunia.
Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat peran Indonesia, tidak hanya sebagai jalur lintasan, tetapi juga sebagai aktor utama dalam ekonomi maritim internasional.
Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Rp50.000 Hari Ini Rabu 22 April 2026
Wacana Pajak Kapal di Selat Malaka
Purbaya mengungkapkan bahwa ide pemungutan pajak ini terinspirasi dari rencana kebijakan serupa yang tengah disiapkan Iran di Selat Hormuz. Ia menilai Indonesia memiliki posisi yang tidak kalah strategis, bahkan lebih menguntungkan dari sisi geografis.
"Seperti arahan presiden, Indonesia ini bukan negara pinggiran, kita ada di jalur strategis perdagangan dan energi dunia, tapi kapal lewat Selat Malaka nggak kita charge, nggak tahu betul apa salah?" ujar Purbaya di Jakarta, Rabu 22 April 2026.
Menurutnya, potensi penerimaan dari kebijakan ini bisa sangat besar jika dikelola dengan tepat. Apalagi, wilayah perairan Indonesia menjadi bagian terpanjang dalam jalur Selat Malaka dibandingkan negara lain.
Baca Juga: Kurs Rupiah Menguat ke Rp17.126, Pelemahan Dolar Jadi Pemicu Utama
Perlu Kerja Sama dengan Negara Tetangga
Meski menjanjikan, Purbaya menegaskan bahwa implementasi kebijakan ini tidak bisa dilakukan secara sepihak. Indonesia perlu menggandeng Malaysia dan Singapura agar skema pemungutan berjalan efektif dan tidak menimbulkan konflik.
"Sekarang Iran mau charge kapal lewat Selat Hormuz. Kalau kita bagi tiga, Indonesia, Malaysia, Singapura, lumayan kan? Punya kita jalurnya paling besar, paling panjang," kata Purbaya.
