Oleh: Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre)
KPK menangkap rata-rata satu koruptor setiap minggu dan kita membaca berita korupsi setiap hari. Ujungnya, Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN) jadi tradisi bahkan agama; melawan KKN seperti mengalami seribu pertempuran tetapi seribu satu kekalahan.
Kutukan negeri korupsi tentu tidak datang dengan singkat bermartabat, tetapi terstruktur, sistematis dan masif. Pelan tapi pasti. Satu demi satu takluk: dari lembaga dan agensi. Lalu, menyempurna dalam kurikulum dan sekolah.
Sesungguhnya, tradisi KKN hadir pelan-pelan, seperti kabut tipis yang menukik dari pegunungan, mengendap di rongga langit, menyusup ke dalam hati, pikiran, dan perbuatan pejabat yang jadi penjahat. Lalu, perlahan mengikis dan mendelet ideologi Pancasila serta lima agama resmi.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Ekonomisasi Rempah
27 tahun telah berlalu sejak reformasi di seluruh kota Indonesia berakhir, Waktu panjang yang seharusnya menghilangkan justru membuatnya makin masif. Orde Anti KKN yang dibangun oleh para patriot pancasila, kini sudah lenyap arahnya, jiwanya dan kisahnya.
Tanda-tanda kejahiliyahan, kegelapan dan amoralisme mulai bermunculan. Ini seolah alam semesta sedang menyampaikan peringatan terakhir sebelum negeri ini lenyap atau pecah berkeping-keping.
Firasat buruk bertebaran tanpa wujud yang jelas. Gerimis dan hujan yang dahulu sejuk bagi warga negara kini bergelombang banjir dan menggulung, membawa berton lumpur dan bau amis yang tidak tak terpikirkan.
Setiap hari, dinding-dinding istana dari batu mulia bergetar halus, menimbulkan suara samar yang membuat hati gelisah, seakan bangunan itu sendiri menyadari kutuk buruk mendekat, meremuk serta kalut.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Ekonomi Minus Kemakmuran
Di dalam rumah ibadah dan gudang-gudang padi yang melimpah, keanehan semakin nyata. Tikus-tikus hitam berkembang biak dengan cepat, tak lagi takut pada manusia. Di pinggiran kota, lolongan serigala terdengar memanjang, menyerupai rintihan manusia yang sekarat.
