JAKARTA, POSKOTA.CO.ID – Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Israel dan Iran, mulai memberikan tekanan terhadap industri plastik di Indonesia. Ketegangan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga bahan baku serta mengganggu rantai pasokan yang selama ini menjadi tulang punggung industri petrokimia global.
Kondisi ini dikhawatirkan berdampak langsung pada pelaku usaha dalam negeri, terutama sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergantung pada plastik sebagai bahan kemasan produk makanan dan minuman.
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, menilai harga plastik berpotensi meningkat seiring naiknya harga minyak bumi sebagai bahan baku utama industri tersebut.
Menurutnya, kondisi geopolitik yang memanas di Timur Tengah membuat pasokan bahan baku semakin sulit diperoleh, sehingga memicu kenaikan harga di tingkat industri.
Baca Juga: Dampak Konflik Timur Tengah Harga Plastik Naik, Pedagang Kecil Mulai Keluhkan Biaya Operasional
“Bahan plastik berpotensi naik karena bahan baku minyak makin sulit diperoleh dan harganya naik. Bahkan salah satu produsen petrokimia menyatakan force majeure alias kondisi kahar tidak mampu memenuhi kontrak,” ujar Bhima kepada Poskota, Senin, 16 Maret 2026.
Bhima bahkan menyebutkan bahwa salah satu produsen petrokimia telah menyatakan kondisi force majeure atau keadaan kahar karena tidak mampu memenuhi kontrak pasokan bahan baku.
Ia menjelaskan bahwa keterbatasan bahan baku berbasis minyak bumi berpotensi menekan produksi plastik dan memicu kenaikan harga di pasar.
Biaya Logistik Industri Plastik Ikut Terdampak
Dampak konflik tidak hanya terjadi pada sisi bahan baku, tetapi juga pada sektor distribusi. Ketidakpastian geopolitik global membuat biaya logistik industri plastik meningkat.
Baca Juga: Harga Plastik di Jakarta Naik hingga 30 Persen, Pedagang Sebut Dampak Konflik Iran–Amerika
Kenaikan biaya distribusi tersebut pada akhirnya berpotensi dibebankan kepada konsumen melalui harga produk yang lebih tinggi di pasar.
“Efek ke biaya logistik industri plastik juga makin berat dan akan diteruskan ke konsumen,” ucapnya.
Bhima menilai kondisi ini dapat merugikan pelaku UMKM, terutama menjelang momen Lebaran yang biasanya menjadi periode peningkatan penjualan produk makanan dan minuman.
Kenaikan harga plastik sebagai bahan kemasan berpotensi menambah biaya produksi dan pada akhirnya menggerus margin keuntungan pelaku usaha kecil.
Baca Juga: Polisi Bongkar Peredaran Obat Psikotropika Berkedok Toko Plastik di Jagakarsa
Padahal, periode Hari Raya seharusnya menjadi kesempatan bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan omzet penjualan.
“Momen Lebaran seharusnya pengusaha UMKM mendapatkan omzet yang tinggi, tapi karena harga plastik naik untuk kemasan makanan dan minuman akan menggerus omzet,” katanya.
Pemerintah Diminta Cari Sumber Bahan Baku Alternatif
Untuk meminimalkan dampak yang lebih luas, Bhima mendorong pemerintah segera mengambil langkah strategis. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah mencari alternatif sumber bahan baku plastik dari negara selain kawasan Timur Tengah.
Koordinasi antara pemerintah dan industri plastik dinilai diperlukan untuk memastikan ketersediaan pasokan bahan baku tetap terjaga.
Baca Juga: Soal Kemasan MBG Pakai Plastik Kresek, Wabup Pandeglang Ancam Tutup SPPG Nakal
“Pemerintah sebaiknya melakukan koordinasi dengan perusahaan plastik untuk mencari bahan baku alternatif dari negara selain Timur Tengah,” ucap Bhima.
Selain itu, ia juga mengusulkan pemberian stimulus bagi pelaku UMKM agar mampu menghadapi kenaikan biaya produksi. Bentuk stimulus yang diusulkan antara lain bantuan subsidi upah bagi pelaku usaha kecil.
“Bagi konsumen UMKM harus ada stimulus berupa bantuan subsidi upah Rp3,5 juta per bulan agar tidak kaget ketika harga makanan dan minuman naik,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Indonesia Olefin, Aromatic and Plastic Industry Association (Inaplas), Fajar Budiono, menyatakan bahwa konflik di Timur Tengah memang mulai memengaruhi distribusi bahan baku industri plastik.
Baca Juga: Tekan Sampah Plastik, Pemkot Bekasi Luncurkan Spot Air Minum Ulang di Area Balai Kota
Salah satu bahan baku penting yang terdampak adalah nafta, komponen utama dalam produksi petrokimia yang selama ini banyak dipasok dari kawasan Timur Tengah.
Menurut Fajar, sekitar 70 persen pasokan bahan baku industri plastik Indonesia berasal dari wilayah tersebut, sehingga gangguan distribusi langsung memengaruhi rantai pasokan industri.
“Sekitar 70 persen pasokan kita berasal dari kawasan itu, sehingga sekarang tidak bisa dikirim ke sini,” kata Fajar.
Dampak Gangguan Pasokan Diperkirakan Terasa setelah Lebaran
Fajar memperkirakan dampak gangguan pasokan bahan baku baru akan mulai terasa beberapa waktu setelah perayaan Idulfitri, terutama sekitar pekan kedua atau sekitar H+10 setelah Lebaran.
Saat ini, sebagian produsen masih memprioritaskan pengiriman bahan baku yang telah terikat kontrak sebelumnya. Sementara itu, pesanan baru belum dapat dilayani sepenuhnya karena keterbatasan pasokan.
Baca Juga: Tekan Sampah Plastik, Pemkot Bekasi Luncurkan Spot Air Minum Ulang di Area Balai Kota
“Pabrik-pabrik hanya melayani atau mengirim yang sudah kontrak saja. Orderan baru belum dilayani,” katanya.
Para produsen juga menjadi lebih selektif dalam menerima kontrak baru, menyesuaikan dengan kondisi ketersediaan bahan baku yang semakin terbatas.
Akibat gangguan pasokan tersebut, tingkat utilisasi pabrik industri plastik diperkirakan akan mengalami penurunan pada April mendatang.
Namun, besaran penurunan kapasitas produksi tersebut masih belum dapat dipastikan karena sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“Utilisasi di April pasti akan turun, tapi turun seberapa besar kami belum tahu,” ucapnya. (cr-4)
