Sementara itu, Sekretaris Jenderal Indonesia Olefin, Aromatic and Plastic Industry Association (Inaplas), Fajar Budiono, menyatakan bahwa konflik di Timur Tengah memang mulai memengaruhi distribusi bahan baku industri plastik.
Baca Juga: Tekan Sampah Plastik, Pemkot Bekasi Luncurkan Spot Air Minum Ulang di Area Balai Kota
Salah satu bahan baku penting yang terdampak adalah nafta, komponen utama dalam produksi petrokimia yang selama ini banyak dipasok dari kawasan Timur Tengah.
Menurut Fajar, sekitar 70 persen pasokan bahan baku industri plastik Indonesia berasal dari wilayah tersebut, sehingga gangguan distribusi langsung memengaruhi rantai pasokan industri.
“Sekitar 70 persen pasokan kita berasal dari kawasan itu, sehingga sekarang tidak bisa dikirim ke sini,” kata Fajar.
Dampak Gangguan Pasokan Diperkirakan Terasa setelah Lebaran
Fajar memperkirakan dampak gangguan pasokan bahan baku baru akan mulai terasa beberapa waktu setelah perayaan Idulfitri, terutama sekitar pekan kedua atau sekitar H+10 setelah Lebaran.
Saat ini, sebagian produsen masih memprioritaskan pengiriman bahan baku yang telah terikat kontrak sebelumnya. Sementara itu, pesanan baru belum dapat dilayani sepenuhnya karena keterbatasan pasokan.
Baca Juga: Tekan Sampah Plastik, Pemkot Bekasi Luncurkan Spot Air Minum Ulang di Area Balai Kota
“Pabrik-pabrik hanya melayani atau mengirim yang sudah kontrak saja. Orderan baru belum dilayani,” katanya.
Para produsen juga menjadi lebih selektif dalam menerima kontrak baru, menyesuaikan dengan kondisi ketersediaan bahan baku yang semakin terbatas.
Akibat gangguan pasokan tersebut, tingkat utilisasi pabrik industri plastik diperkirakan akan mengalami penurunan pada April mendatang.
Namun, besaran penurunan kapasitas produksi tersebut masih belum dapat dipastikan karena sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
